Senin, 18 Juni 2012

SISTEM PROTEKSI PADA MOTOR 2,4 kV FORCED FAN FOR FLUIDIZING AIR (62-GB-602M) DI UREA ACES-GRANUL PT. PUPUK ISKANDAR MUDA II



ABSTRAK

Motor induksi merupakan motor arus bolak-balik yang paling luas digunakan. Penamaan berasal dari kenyataan bahwa arus rotor motor ini bukan diperoleh dari sumber tertentu, tetapi merupakan arus yang terinduksi sebagai akibat adanya perbedaan relatif antara putaran rotor dengan medan putar (rotating magnetic field) yang dihasilkan oleh stator. Belitan stator yang dihubungkan dengan suatu sumber tegangan tiga fasa akan menghasilkan medan magnet yang berputar dengan kecepatan sinkron (ns). Medan putar pada stator tersebut akan memotong konduktor - konduktor pada rotor, sehingga terinduksi tegangan. Karena rotor merupakan rangkaian tertutup, maka akan mengalir arus. Dan sesuai dengan hukum Lenz rotorpun akan berputar mengikuti medan putar stator. Perbedaan putaran relatif antara stator dan rotor disebut slip. Bertambahnya beban akan memperbesar slip sehingga kenaikan tegangan iuduksi pada rotor akan menaikkan arus rotor dan akibatnya akan memperbesar kopel. Dalam tulisan ini akan dibahas sistem proteksi pada motor induksi.

Kata Kunci : Motor Induksi, Ganguan, Proteksi


BAB  I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan suatu negara maka semakin maju pula suatu negara itu. Terutama pada sektor industri, penggunaan motor-motor listrik dari yang berkapasitas kecil sampai yang berkapasitas besar sangat diperlukan. Motor  lisrtik adalah sebagai peralatan konversi yang merubah energi listrik menjadi energi mekanik diharapkan untuk mendapat perubahan energi yang efesien. Motor-motor listrik ini biasanya digunakan untuk mesin-mesin pompa, mesin penggerak, mesin penggiling dan sebagainya.
            Salah satunya adalah PT. Pupuk Iskandar Muda, seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia adalah Negara Agraris yang sebagai besar mata pencahariannya adalah sektor pertanian. Oleh karena itu untuk mendukung hal ini maka kemajuan dalam bidang-bidang pertanian sangatlah menguntungkan.
Pada saat sekarang ini diantara jenis-jenis motor listrik yang banyak digunakan adalah jenis motor induksi, dibandingkan dengan motor listrik yang lain. Hampir semua industri menggunakan motor induksi tiga fasa, baik industri kecil, menengah dan besar, motor induksi digunakan karena sangat praktis dan  efisien. Hal ini dikarena motor induksi mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya kontruksinya yang sederhana dan kokoh, efisiensi yang tinggi, mudah dioperasikan,  mudah perawatan dan harga relatif murah.
Pengaruh terbesar dalam PT. Pupuk Iskandar Muda yaitu pada proses produksi pupuknya. Proses produksi yang terhambat menimbulkan akibat kerugian bagi perusahaan, sistem proteksi yang handal sudah teraplikasikan di dalam perusahaan ini. Sistem proteksi digunakan pada berbagai macam perlatan, pada motor, generator, distribusi jaringan listrik dan lain sebagainya. Karena pentingnya sistem proteksi dalam sebuah perusahaan atau pabrik sebagai penunjang berhasilnya proses produksi pupuk. Maka penulis mengambil suatu rumusan masalah dan menyusun sebuah laporan kerja praktek dengan judul ” SISTEM PROTEKSI PADA MOTOR 2,4 kV FORCED FAN FOR FLUIDIZING  AIR  (62-GB-602M) DI UREA ACES-GRANUL  PT. PUPUK ISKANDAR MUDA II ”

1.2       Rumusan Masalah
Ruang lingkup pembahasan yang dilakukan adalah mengetahui prinsip kerja motor induksi 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M), kegunaan motor induksi 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M) di Urea Aces-Granul Pabrik 2 PT. PIM serta sistem proteksi pada motor induksi 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M) di di Urea Aces-Granul Pabrik.
1.      Apa saja yang diproteksi oleh sebuah alat proteksi SIEPROTEK 7JS602.
2.      Bagaimana sistem proteksi bekerja.
3.      Bagaimana proses terjadi trip apabila terjadi gangguan pada motor induksi 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M).

1.3       Batasan Masalah
   Pembahasan laporan Kerja Praktek ini penulis hanya membahas tentang Sistem Proteksi pada Motor 2,4 kV Forced Fan for Fluidizing  Air  (62-GB-602M) di Urea Aces-Granul  PT. Pupuk Iskandar Muda II. Dalam hal ini perhitungan dan analisa secara matematis tidak dibahas.
1.4       Tujuan
   Adapun tujuan dari Kerja Praktek yang dilakukan di PT. Pupuk Iskandar Muda adalah :
1.       Membandingkan, mengamati, menganalisa dan menerapkan antara ilmu yang didapat dibangku perkuliahan dengan ilmu yang diterapkan pada Kerja Praktek.
2.       Menambah ilmu pengetahuan serta wawasan mengenai sistem peralatan industri, sarana penunjang, manajemen dan disiplin perusahaan.
3.       Dapat mengetahui secara langsung bagaimana proses sistem proteksi pada motor induksi 2,4 kV Forced Fan for Fluidizing Air (62-GB-602M).
4.       Dapat mengetahui cara kerja sistem proteksi pada motor 2,4 kV Forced Fan for Fluidizing Air (62-GB-602M) menggunakan SIEPROTEK 7JS602.
5.       Menambah pengalaman di dunia kerja dan hal tersebut dapat menjadi referensi bagaimana dunia kerja pada kondisi sebenarnya.
1.5       Tempat Pelaksanaan
            Kerja praktek dilaksanakan di PT. Pupuk Iskandar Muda Krueng Geukueh Aceh Utara mulai tanggal 1 Maret sampai dengan 31 April 2010.

1.6       Metode Penulisan
            Dalam penulisan laporan ini penulis melakukan penelitian dengan metode sebagai berikut:
1.         Melakukan observasi
Merupakan kegiatan yang dilakukan dilapangan, yaitu mengumpulkan data dengan survei dan wawancara langsung dengan pembimbing lapangan .
2.         Metode studi literatur
Yaitu dengan cara membaca dan mengambil teori dengan buku-buku manual dan referensi lainnya yang berhubungan dengan penulisan.

1.7       Sistematika Penulisan
            Agar penulisan lebih mengarah, maka penulis membagi penulisan laporan kerja praktek ini dalam 5 bab dan masing-masing bab dirinci kedalam sub bab sehingga sistematika pembahasan dapat dijelaskan sebagai berikut:
BAB I       PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang, permasalahan, pembatasan masalah, tujuan, dan sistematika penulisan.


BAB II      PROFIL PT. PUPUK ISKANDAR MUDA
                  Bab ini berisi tentang sejarah singkat, lokasi, sistem manajemen, struktur organisani, unit produksi, unit penunjang, sistem kelistrikan dan sistem ditribusi listrik PT. Pupuk Iskandar Muda.
BAB III    DASAR TEORI
                  Bab ini berisi tentang sistem kerja relay dan motor induksi di PT. Pupuk Iskandar Muda, prinsip kerja relay dan motor induksi serta sistem proteksi yang digunakan.

BAB VI    SISTEM PROTEKSI PADA MOTOR 2,4 kV FORCED FAN FOR    FLUIDIZING  AIR (62-GB-602M)
                  Bab ini berisi tentang prinsip kerja maupun prosedur pengoperasian motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air  (62-GB-602M) serta sistem proteksinya. Bagaimana sistem trip pada motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air  (62-GB-602M).

BAB V      PENUTUP
                  Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran dari kegiatan Kerja Praktek yang dilakukan.         








BAB II
SEJARAH PERUSAHAAN
PT. PUPUK ISKANDAR MUDA

Dengan adanya kandungan gas alam yang terdapat di Kabupaten Aceh Utara dan tersedianya lokasi yang strategis di daerah pantai serta adanya jalan raya yang melintasi daerah ini, maka daerah ini sangat menunjang bagi pertumbuhan industri besar dan kecil terutama yang menggunakan sumber daya alam yang berupa gas alam dan hasil hutan sebagai bahan baku industri kecil, maupun industri-industri keterkaitannya dengan industri hilir. Pupuk urea merupakan salah satu produk strategis yang sangat penting peranannya dalam menunjang produksi pertanian.
2.1.      Sejarah Ringkas PT. Pupuk Iskandar Muda
          PT. Pupuk Iskandar Muda didirikan pada tanggal 24 Februari 1982 dihadapan Notaris Soelaiman Ardjasasmita, SH sesuai akte No. 54 dengan nama PT. Pupuk Iskandar Muda, yang merupakan suatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah naungan Meneg. Pendayagunaan BUMN. Pembangunan proyek pabrik PIM ini awalnya dirintis oleh PT. PUSRI Pelembang sejak 1981, didukung dekat dengan sumber alam dan air yang merupakan bahan baku utama pembuatan pupuk urea, loksi pembangunan pabrik ditetapkan di  Krueng Geukueh, Kabupaten Aceh Utara. Penandatanganan kontrak pembangunan pabrik dilakukan 2 Oktober 1981 antara Pemerintah RI yang dilaksanakan oleh Departemen Perindustrian c/q Dirjen Industri Kimia Dasar  dengan kontraktor utama PT. Rekayasa Industri dari Indonesia dan Toyo Engineering Coorporation dari Jepang. Pembangunan pabrik dimulai 13 Maret 1982 dan selesai tiga bulan lebih awal dari rencana, pada akhir tahun 1984 pabrik mulai berproduksi, pengapalan perdana dilakukan 17 Februari 1985. Pada tanggal 20 Maret 1985 pabrik diresmikan oleh Presiden RI dn beropersai secara komersial dimulai 1 April 1985.
2.2.      Lokasi dan Area Pabrik PT. Pupuk Iskandar Muda
            Lokasi pabrik PT. Pupuk Iskandar Muda terletak di wilayah zona industri Lhokseumawe. Pabrik ini berdampingan dengan pabrik PT. Asean Aceh Fertilizer (AAF) dan pabrik gas alam cair PT. ARUN, serta tersedianya sarana pelabuhan yang cukup strategis di samping jalan raya dan transportasi yang memadai. Adapun untuk keperluan pembangunan PT. Pupuk Iskandar Muda dengan rencana pembangunannya, telah dibebaskan tanah seluas 323 Ha, dengan perincian : 162 Ha untuk keperluan pabrik dan perkantoran, serta 161 Ha untuk kebutuhan perumahan dan sarana fasilitasnya.
2.3.      Kepedulian Lingkungan
PT. Pupuk Iskandar Muda memiliki komitmen yang sangat kuat bahwa pengendalian limbah pabrik, baik limbah cair, padat, gas maupun debu merupakan aspek penting yang harus diprioritaskan pengelolaannya. Upaya pengendalian lingkungan yang dilakukan dengan cara mencegah terjadinya pencemaran lingkungan seminimal mungkin. 
·      Pengendalian limbah dilakukan dengan proses stripping, scrubber, recovery, aerasi dan netralisasi.
·      Pemanfaatan gas buang (purge gas), sehingga dihasilkan H2 murni dengan system Hydrogen Recovery Unit.
·      Pemanfaatan condensate, sehingga dihasilkan condensate yang tidak mengandung ammonia dengan sistem stripping.
·      Penyerapan gas ammonia, sehingga dapat mencegah terjadinya pencemaran udara dengan sistem scrubber.
·      Pengelolaan limbah cair dengan sistem aerasi dan netralisasi, sehingga limbah cair yang dibuang ke media lingkungan, memenuhi baku mutu dan tidak mencemari lingkungan.
·      Pemasangan silencer (peredam) pada alat mesin, sehingga kebisingan yang ditimbulkan dapat dikurangi.
·      Penyerapan debu urea dengan dust recovery system, sehingga dapat mengurangi pencemaran debu urea.
2.4.      Pembinaan Wilayah
PT. Pupuk Iskandar Muda selalu berperan aktif dalam pembangunan daerah dan masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, khususnya di Kabupaten Aceh Utara. Program pembinaan wilayah yang dilaksanakan secara berkesinambungan oleh PT. Pupuk Iskandar Muda telah membawa dampak yang cukup signifikan dalam menjaga kelangsungan usaha serta pengamanan asset perusahaan.
Pembinaan wilayah yang dilakukan, antara lain : bantuan penyediaan fasilitas pendidikan, sosial-budaya, kesehatan, olah raga, dan keagamaan. Pembinaan dilaksanakan melalui kerjasama dengan beberapa instansi terkait, seperti : Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, Pemuka Masyarakat,  Ulama, Tokoh  Pemuda  dan  Pengurus  Badan  Dakwah  Islamiyah  Al Muntaha  PT. Pupuk Iskandar Muda.
Disamping pembinaan wilayah yang langsung ditangani oleh perusahaan sejak tahun 1994, lembaga lain yang juga ikut melakukan kegiatan kemasyarakatan adalah Yayasan Amil Zakat (YAZ) Al Muntaha PT. Pupuk Iskandar Muda. Yayasan ini mengelola zakat, infaq dan sedekah dari karyawan PT. Pupuk Iskandar Muda
Realisasi pembinaan wilayah yang telah dilakukan oleh PT. Pupuk Iskandar Muda, antara lain :
·      Mendirikan LOLAPIL (Loka Latihan Keterampilan) untuk mendidik para pemuda dari desa sekitar dengan berbagai macam bidang keterampilan, seperti : pertanian, peternakan, perikanan, pengelasan, dan pertukangan.
·      Membantu pembangunan rumah sangat sederhana kepada keluarga miskin yang berdomisili di sekitar perusahaan.
·      Memberi kesempatan kepada masyarakat sekitar untuk memanfaatkan lahan seluas 23 ha milik PT. Pupuk Iskandar Muda.
·      Memberi beasiswa kepada siswa yang berprestasi untuk melanjutkan studi, baik di dalam maupun di luar negeri.
·      Menyalurkan bantuan obat-obatan secara periodik kepada Puskesmas di sekitar perusahaan.
·      Membantu sarana olahraga untuk beberapa desa di sekitar perusahaan sehingga dapat dimanfaatkan oleh para pemuda.
2.5.      Prestasi Dan Penghargaan
Sejak beroperasi secara komersil tahun 1985, PT. Pupuk Iskandar Muda telah beberapa kali menerima penghargaan dan sertifikat dari Pemerintah dan lembaga tertentu atas keberhasilan dalam pengelolaan perusahaan secara keseluruhan, antara lain  sebagai berikut :

Tabel 2.1 Prestasi dan Penghargaan PT. Pupuk Iskandar Muda (PT. PIM)
PRESTASI DAN PENGHARGAAN
TAHUN
"Upakarti" dari Presiden RI “PT. PIM sebagai Pembina Industri Kecil"
1986
Juara I Perusahaan Teladan Bidang KKK se NAD
1987
"Sword of Honour", Pedang Kehormatan Keselamatan Kerja  dari British Safety Council.
1989,1993,1996, 1997
"Sahwali Award", Pengusaha Berwawasan Lingkungan dari PIPLI
1991, 1994
"Nihil Kecelakaan Kerja" dari Menteri terkait yang diserahkan oleh Presiden R.I.
1992, 1994, 1995,1996, 1998, 2002, 2003, 2007
"Primaniyarta" dari Presiden R.I dalam prestasi bidang ekspor   non Migas.
1992, 2001, 2002
"Proper - Prokasi", Peringkat Biru 
1994, 1996, 1997
"Five Star Grading" bidang KKK
1995/1996, 1996/1997, 1997/1998, 2000/2001
"Bakti Koperasi" bidang Pembinaan Koperasi
1996
"Adi Manggala Krida" dari Presiden R.I.
1996
ISO – 9002 : 1994, bidang Sistem Manajemen Mutu
1997, 2000
ISO – 14001 : 1996, bidang Sistem Manajemen Lingkungan
1998, 2002
“Bendera Emas” dari Presiden R.I.
2002
ISO – 9001 : 2000, bidang Sistem Manajemen Mutu
2003

2.6.      Pabrik dan Sarana Pendukung
            Pabrik dan sarana produksi terdiri dari beberapa unit, yaitu unit utilitas, unit ammonia dan unit area.
2.6.1    Unit Utilitas
            Unit ini berfungsi untuk memproses penyediaan kebutuhan bahan baku seperti :
a.              Air bersih untuk bahan baku, air untuk pendingin, air bebas mineral untuk ketel uap, uap air (steam), udara instrument, tenaga listrik dan oksigen serta nitrogen.
b.             Bahan baku berupa air diperoleh dari Krueng Peusangan, tenaga listrik dibangkitkan oleh Genarator Turbin Gas berkapasitas 15 MW.
c.              Bahan baku udara yang diperoleh dari udara bebas di dalam Fractionation Colum didinginkan dengan berdasarkan perbedaan titik embun, sehingga unsur oksigen dan nitrogen dapat dipisahkan lagi.
Adapun unit-unit di pabrik utilitas adalah sebagai berikut:
a.              Unit Water Intake Facility
b.             Unit Pengolahan Air
-       Clarifier Grafity
-       Sand filter
-       Filter Water Reservoir
-       Activated Carbon Filter
-       Demineralizer
c.              Unit Pembangkit Steam
-       Package Boiler
-       Waste Heat Boiler
d.             Unit Udara Instrument/ Udara Pabrik
e.              Unit Air Separation Plant
f.              Unit Gas Mattering Station
g.             Unit Pengolahan Limbah Buangan
h.             Unit Pabrik CO2 dan Dry Ice
i.               Unit Pembangkit Listrik
-       Main Generator
-       Stand By Generator
-       Emergency Generator
Main Generator adalah unit pembangkit energi listrik utama  yang digerakkan oleh turbin gas, generator ini berkapasitas 15 MW dengan tegangan yang dihasilkan 13,8  KV, tiga phasa di dalam switch room di utility, dari bus ini didistribusikan ke switch room lain dengan tegangannya  diturunkan melalui trafo step down (13,8 KV - 2,4 KV) dan diturunkan lagi oleh trafo step down ke bus 480 V, kemudian diturunkan lagi dengan trafo step down ke 220 V.
Apabila Main Generator bermasalah, maka tenaga listrik akan dibebankan kepada Stand By Generator, generator ini mempunyai dua fungsi bahan bakar yaitu minyak solar dan bisa juga bahan bakar gas alam, Stand By Generator berkapasitas 1.5 MW dengan tegangan  yang dihasilkan 2,4 KV, tiga phasa.
Sebelum Stand By Generator  mengambil alih beban terlebih dahulu bekerja Emergency Generator, ini akan berlansung bekerja ± 10 detik setelah electric failure terjadi dan generator ini siap untuk dibebani. Generator ini digerakkan oleh minyak solar.
Selain tiga pembangkit di atas juga terdapat suatu system beterai yaitu UPS (Uninterrupted Power Supply) yang berfungsi untuk mensuplai tenaga listrik keperalatan instrumentasi, paging dan alarm, yang mana peralatan tersebut tidak boleh terputus supply tenaga listriknya.
2.6.2    Unit Ammonia.
Unit ini berkemampuan memproduksi ammonia 1.170 ton/ hari atau 386.000 ton/ tahun, menggunakan proses Kellog dari Amerika dengan bahan baku gas alam, uap air (steam), dan udara. Gas alam di bebaskan dari senyawa impurities (senyawa-senyawa ikutan) kemudian diubah menjadi gas sintesa H2, CO2 ­dn N. Gas sintesa kemudian di konversikan menjadai ammonia, setelah beberapa reaksi dan pemurnian, ammonia ini siap dikirim untuk proses pabrik urea atau sebagai produk lansung ammonia.
Adapun proses produksi di pabrik Ammonia adalah sebagai berikut :
a.              Sistem Persiapan Gas Umpan Baku
-       Desulfurizer
-       Mercury Guard Chamber
-       CO2 Preatment Unit (CPU)
-       Hydrotreater
-       ZnO Guard Chamber
b.             System Pembuatan Gas Sintesa
-       Primary Refomer
-       Secondary Reformer
-       Shift Converter
c.              System Pemurnian Gas Sintesa.
-       CO Absorber
-       CO2 Striper
-       Methanator
d.             System Sintesa Ammonia
e.              System Pendinginan Ammonia
f.              Sistem Daur Ulang Ammonia
g.             Sistem Daur Ulang Hidrogen (HRU)

2.6.3    Unit Area
            Dengan menggunakan proses Mitsui Toatsu Total recycle C Improved. Unit ini mampu memproduksi pupuk urea butiran dengan kapasitas terpasang 1.725 ton/ hari  atau 570.000 ton/ tahun. Urea yang dihasilkan di simpan dalam Bulk storae ataupun dikirm ke unit pengantongan. Urea dibuat dengan mereaksikan ammonia dengan carbondioksida, larutan urea murni dikristalkan secara vakum, kemudian dilelehkan kembali dalam Melter dengan menggunakan Steam sebagai pemanas. Dari atas Prilling Tower lelehan urea di teteskan yang  kemudian akan memadat setelah didinginkan dengan udara.
            Adapun proses yang terjadi di pabrik urea adalah sebagai berikut:
a.              Seksi Sintesa
b.             Seksi Penguraian/Pemurnian
c.              Seksi Daur Ulang
d.             Seksi Pengkristalan dan Pembutiran
2.7.      Unit Penunjang Produksi
            Pabrik PT. Pupuk Iskandar Muda di lengkapi dengan unit penunjang produksi, diantaranya :
1.             Unit Pelabuhan PT. Pupuk Iskandar Muda mampu disandari kapal-kapal curah berbobot mati sampai 25.000 DWT. Kedalaman rata-rata 10.5 meter pada saat air surut dan dilengkapi dengan sarana untuk membuat pupuk curah kedalam kapal (Ship Loader). Serta sarana air  minum dan sarana navigasi.
2.             Gudang urea curah  lengkap dengan Portal Scrapper dan ban berjalan
3.             Laboratorium pengendalian produksi yang berada di unit utiliti, unit ammonia dan unit urea.
4.             Laboratoprium  utama yang selalu memeriksa mutu hasil produksi dan memonitor limbah.
5.             Perbengkelan yang menunjang pemeliharaan pabrik dan bengkel perbaikan alat-alat dan kendaraan.
2.8.      Pencegah Pencemaran
            PT. Pupuk Iskandar Muda sejak semula telah memasukkan ke dalam konsep rancangannya masalah pengolahan lingkungan hidup. Menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem adalah komitmen dasar PT. Pupuk Iskandar Muda menjadikan dalam dirinya sebagai perusahaan yang berwawasan lingkungan. Upaya ini antara lain dengan cara mencegah sekecil mungkin terjadinya pencemaran lingkungan. Bahan buangan pabrik PT. Pupuk Iskandar Muda tidak berbahaya, karena seluruh peralatan telah dirancang sedemikian rupa dengan dilengkapi proses daur ulang bahan buangan.
a.              Buangan berupa gas dari pabrik tidak mengundang gas berbahaya dan sebagian besar berupa uap air.
b.             Air buangan diproses di kolam pembuangan yang berfungsi  untuk pengendapan  padatan yang terlarut, pengontrolan PH serta penambahan kandungan oksigen.
c.              Debu urea  yang terjadi pada saat pembutiran diserap dan diamankan dengan urea filter dengan sistem Wet Scrubbler (penangkapan debu dengan air).
d.             Kebisingan dari mesin dikurangi dengan memasang cerobong.

2.9.      Struktur Organisasi PT. Pupuk Iskandar Muda
            Organisasi dapat diartikan sebagai suatu sistem dari aktivitas yang dilakukan dua orang atau lebih untuk mencapai suatu tujuan bersama, didalam organisasi pembagian tugas adalah suatu keharusan, pembagian tugas akhirnya menghasilkan departemen-departemen dan job description dari masing-masing departemen sampai unit-unit terkecil dalam organisasi. Struktur organisasi dalam suatu perusahaan sangat diperlukan untuk merumuskan suatu organisasi harus dapat menunjang keberhasilan perusahaan, perusahaan yang berhasil dalam mencapai tujuan tidak hanya tergantung pada modal dan proses industrinya tetapi tergantung pada sistem menajemen  yang baik, yang mana untuk ini diperlukan struktur organisasi  yang fleksibel  dan berkembeng sesuai dengan kondisi  yang dihadapi perusahaan. Semua unsur organisasi  perusahaan dalam  pelaksanaan kegiatan wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik interen  maupun eksteren  untuk mencapai kesatuan gerak secara sinergi  yang  disesuaikan  dengan tugas pokok masing-masing.
            Dewan Direksi (Board of Direktor) berfungsi mengelola perusahaan secara koorperat sesuai dengan yang telah ditetapkan pemegang saham melalui kebijakan strategi fungsional seperti : pemasaran, keuangan, pengembangan dan pemeberdayaan seluruh aset dan potensi yang dimiliki. Secara struktural  unit kerja di bawah direksi eselon 1 adalah Kompartemen, Sekretaris Perusahaan dan Satuan Pengawasan Interen (SPI)  yang dipimpin oleh kepala Kompartemen atau setingkat Kepala Kompartemen (KaKomp). Unit kerja dibawah kompartemen disebut Departemen atau Biro. Unsur-unsur organisasi PT. Pupuk Iskandar Muda, terdiri dari :
1.             Unsur Pimpinan adalah Direksi yang terdiri dari : Direktur Utama, Direktur Umum, Direktur Produksi, Direktur Keuangan dan Komersil, Direktur Teknik dan Pengembangan.
2.             Unsur Pelaksanaan  adalah terdiri dari : Sekretaris  Perusahaan, Satuan Pengawaan Interen (SIP) dengan Kompartemen Administrasi Keuangan, dan Pengembangan.
3.             Unsur Pelaksanaan  adalah yang lansung melaksanakan proses produksi, pemeliharaan pabrik serta yang melaksanakan  pemasaran produk, yaitu : Departemen Operasi, Departemen Pemeliharaan dan Departemen Pemasaran.
4.             Unsur Penunjang  terdiri dari biro lainnya sebagaimana yang tertera pada struktur organisasi (terlampir).
5.             Unsur Pengawasan  merupakan Unit Kerja yang melakukan pengewasan dan inspeksi  seluruh kegiatan perusahaan meiputi operasional dan keuangan yang terdiri dari : Satuan Pengawasan interen  (SPI), Biro Inspeksi  dan K-3 Biro  Perencanaan Produksi dan Pengawasan Proses.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dilampiran.




BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1       Sistem Proteksi
Sistem pengaman bertujuan untuk mencegah atau membatasi kerusakan pada peralatan, dan keselamatan umum yang disebabkan karena gangguan dan meningkatkan kelangsungan pelayanan pada konsumen. Dengan cara dan tingkat pengamanan yang diterapkan tergantung pada banyak faktor (antara lain : sistem yang termasuk cara pentanahannya, peralatan, kondisi dan peraturan setempat dan macam beban), dan merupakan kompromi praktis yang memungkinkan untuk cukup memenuhi kebutuhan dan yang dibandingkan dengan biaya. Karakteristik beban sangat mempengaruhi perencanaan pengaman.
3.1.1    Relay
Relay adalah suatu peralatan listrik yang berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan tegangan listrik yang dapat diatur sesuai dengan setting waktu yang telah ditentukan. Relay mempunyai anak kontak “NO” yang disebut dengan On-delay dan anak kontak “NC” yang disebut Off-delay. Pada saat On-delay di-ON-kan maka On-delay akan bekerja sesuai dengan waktu yang telah diset.
Ada juga relay yang digunakan sebagai pengaman yang disebut dengan thermal over load adalah alat pengaman peralatan listrik terhadap beban lebih. Pengaman ini bekerja berdasarkan prinsip panas yang ditimbulkan oleh adanya arus lebih yang melebihi arus setting nominalnya.
Energi panas tersebut diubah menjadi energi mekanik oleh logam bermetal untuk melepaskan kontak-kontaknya. Dengan terlepasnya kontak akibat arus yang mengalir diatas harga nominal maka akan membuka atau memutuskan suatu rangkaian listrik sehingga melindungi peralatan listrik dari kerusakan yang diakibatkan oleh adanya arus lebih tersebut. Thermal over load ini banyak digunakan sebagai pelindung motor-motor listrik.


a)Description: C:\Users\DBE2\Downloads\Relay.jpgb)Description: C:\Users\DBE2\Downloads\4284.jpg



Gambar 3.1 Contoh Relay, a) Relay Power dan b) Phase Inverse Time Overcurrent Relay

3.2       Motor Induksi
Motor induksi merupakan motor yang paling umum digunakan pada berbagai peralatan industri. Popularitasnya karena rancangannya yang sederhana, murah dan mudah didapat, dan dapat langsung disambungkan ke sumber daya AC.

A.        Komponen
Motor induksi memiliki dua komponen listrik utama (Gambar 3.1).
  1. Rotor. Motor induksi menggunakan dua jenis rotor:
  1. Rotor kandang tupai terdiri dari batang penghantar tebal yang dilekatkan dalampetak-petak slots paralel. Batang-batang tersebut diberi hubungan pendek pada kedua ujungnya dengan alat cincin hubungan pendek.
  2. Lingkaran rotor yang memiliki gulungan tiga fase, lapisan ganda dan terdistribusi. Dibuat melingkar sebanyak kutub stator. Tiga fase digulungi kawat pada bagian dalamnya dan ujung yang lainnya dihubungkan ke cincin kecil yang dipasang pada batang as dengan sikat yang menempel padanya.
  3. Stator. Stator dibuat dari sejumlah stampings dengan slots untuk membawa gulungan tiga fase. Gulungan ini dilingkarkan untuk sejumlah kutub yang tertentu. Gulungan diberi spasi geometri sebesar 120 derajat.





 







Gambar 3.2 Motor Induksi (Automated Buildings)
3.2.1    Stator
            Seperti telah diketahui bahwa stator adalah salah satu bagian dari motor induksi yang diam. Pada stator ini biasanya terdapat inti dan belitan stator. Pada umumnya inti stator merupakan besi lunak berbentuk slindris tebal dan bagian permukaan dalamnya merupakan alur-alur yang memanjang, dibuat dengan menyusun laminasi-laminasi besi tipis yang disusun melingkar dan menebal sehingga manjadi sebuah bentuk yang selindris. Alur-alur ini memanjang dan merata, akan diisi dengan kumparan-kumparan belitan stator.
Gambar 3.3  kontruksi stator motor induksi
3.2.2        Rotor
Rotor adalah bagian dari motor induksi yang berputar ( Bergerak ). Rotor dari motor induksi ada 2 ( dua ) jenis yaitu jenis belitan dan jenis sangkar. Untuk kedua jenis ini konduktor-konduktor rotor diletakan pada alur-alur dari susunan laminasi-laminasi inti besi rotor yang sekaligus menyatu lubang konduktor rotor.







 




Rotro Belitan                          Rotor sangkar
Gambar 3.4 Kontruksi rotor motor induksi

3.3       Klasifikasi Motor Induksi
Motor induksi dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama (Parekh, 2003):
  1. Motor induksi satu fase. Motor ini hanya memiliki satu gulungan stator, beroperasi dengan pasokan daya satu fase, memiliki sebuah rotor kandang tupai, dan memerlukan sebuah alat untuk menghidupkan motornya. Sejauh ini motor ini merupakan jenis motor yang paling umum digunakan dalam peralatan rumah tangga, seperti fan angin, mesin cuci dan pengering pakaian, dan untuk penggunaan hingga 3 sampai 4 Hp.
Description: C:\Users\DBE2\Downloads\split-ac-wiring-diagram.jpg
Gambar 3.5 Rangkaian Motor pada Peralatan Rumah Tangga
  1. Motor induksi tiga fase. Medan magnet yang berputar dihasilkan oleh pasokan tiga fase yang seimbang. Motor tersebut memiliki kemampuan daya yang tinggi, dapat memiliki kandang tupai atau gulungan rotor (walaupun 90% memiliki rotor kandang tupai); dan penyalaan sendiri. Diperkirakan bahwa sekitar 70% motor di industri menggunakan jenis ini, sebagai contoh, pompa, kompresor, belt conveyor, jaringan listrik, dan grinder. Tersedia dalam ukuran 1/3 hingga ratusan Hp.

Gambar 3.6 Rangkaian Sistem Kendali Elektromagnetik pada Motor Induksi 3 Fasa

3.4       Kecepatan Motor Induksi
Motor induksi bekerja sebagai berikut. Listrik dipasok ke stator yang akan menghasilkan medan magnet. Medan magnet ini bergerak dengan kecepatan sinkron disekitar rotor. Arus rotor menghasilkan medan magnet kedua, yang berusaha untuk melawan medan magnet stator, yang menyebabkan rotor berputar.
Walaupun begitu, didalam prakteknya motor tidak pernah bekerja pada kecepatan sinkron namun pada “kecepatan dasar” yang lebih rendah. Terjadinya perbedaan antara dua kecepatan tersebut disebabkan adanya “slip/geseran” yang meningkat dengan meningkatnya beban. Slip hanya terjadi pada motor induksi. Untuk menghindari slip dapat dipasang sebuah cincin geser/ slip ring, dan motor tersebut dinamakan “motor cincin geser/ slip ring motor”. Persamaan berikut dapat digunakan untuk menghitung persentase slip/geseran (Parekh, 2003):


% Slip = ..........................................................................(3.1)
Dimana:
Ns = kecepatan sinkron dalam RPM
Nb = kecepatan dasar dalam RPM

3.5       Hubungan antara beban, kecepatan dan torque
Gambar 3.2 menunjukan grafik torque-kecepatan motor induksi AC tiga fase dengan arus yang sudah ditetapkan. Bila motor (Parekh, 2003):
  1. Mulai menyala ternyata terdapat arus nyala awal yang tinggi dan torque yang rendah (“pull-up torque”).
  2. Mencapai 80% kecepatan penuh, torque berada pada tingkat tertinggi (“pull-out torque”) dan arus mulai turun.
  3. Pada kecepatan penuh, atau kecepatan sinkron, arus torque dan stator turun ke nol.





Gambar 3.7 Grafik Torque-Kecepatan Motor Induksi AC
3-Fase (Parekh, 2003)




BAB IV
SISTEM PROTEKSI PADA MOTOR 2,4 kV FORCED FAN FOR FLUIDIZING  AIR  (62-GB-602M) DI UREA ACES-GRANUL
 PT. PUPUK ISKANDAR MUDA II

4.1       Umum
            Motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air  (62-GB-602M) merupakan motor penggerak blower untuk menghembus udara pendingin ke dalam granulator (62-MA-601) pada proses tahapan akhir (finishing) pembuatan urea granul. Jenis motor 2,4 kV digunakan pada Forced Fan For Fluidizing  Air  (62-GB-602M) ialah jenis motor induksi yang diproduksikan oleh VEM Germany Electric Co, Ltd. Motor ini membutuhkan daya 630 kW dengan tegangan 2,4 kV. Frekuensi 50 Hz, arus 230 A, memiliki enam kutub dengan putaran 1000 rpm, faktor daya 0,83 dan tipe motor ini adalah kelas F.
Motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air  (62-GB-602M) dilengkapi oleh suatu alat proteksi berbasis digital produksi Siemens AG, Co, Ltd. dengan kode produk SIEPROTEK 7SJ602 (Multifunction Overcurrent Motor Protection) dan alat kontrol indikasi temperatur wilding. Untuk mengantisipasi kerusakan dan kebakaran pada motor yang menghabiskan biaya yang cukup mahal.



4.2       Prosedur Pengoperasian Motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air  (62-GB-602M)
            Untuk menjalankan ataupun mengoperasikan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air  (62-GB-602M) harus mengikuti prosedur sebagai berikut:
1.      Perhatikan Power untuk Motor telah tersedia. Bila belum hubungi Teknisi Listrik.
2.      Putar Shaft pada Motor bila kondisi ringan diputar berarti motor siap dioperasikan. Bila kondisi berat diputar hubungi Teknisi Listrik.
3.      Perhatikan kondisi pembukaan Valve baik Suction maupun Discharge, usahakan pembukaan Valve Discharge (62-HIC-602) ± 10%, baik di DCS maupun dilapangan. Perhatikan Amper Meter pada alat ukur dilapangan jika ada terpasang
4.      Pastikan semua peralatan dan sistem aman untuk dioperasikan
5.      Yakinkan HS-661 pada posisi bypass, dikarenakan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air  (62-GB-602M) mempunyai sistem interlock atau terangkai seri dengan motor 2,4 kV Induce Fan For Dust Scrubber  (62-GB-603 AM~DM)
6.      Start Motor dengan memindahkan Selector Switch (jika ada pada CSS) dari posisi OFF ke posisi Hand / Auto jika tidak ada selector maka cukup tekan Tombol Tekan “ON” (Push Button “ON”) pada CSS
7.      Perhatikan indikasi suara (Sound) dari motor maupun beban Fan atau Blower. Bila kondisi suara terdengar berisik dan berdengung (Abnormal Sound) maka hubungi Inspeksi, Teknisi Listrik dan Teknisi Mechanic untuk mengambil keputusan dibiarkan beroperasi ataupun dimatikan (Shutdown).
8.      Bila terjadi gagal Start atau Motor Jam ditandai dengan lampu indikasi di MCC (Motor Centre Control) di Panel Distibution Power Pabrik II PT. PIM berwarna Kuning menyala atau Breaker Trip, segera hubungi Teknisi Listrik.
9.      Lakukan pengukuran arus Start dan arus normal saat Start Motor dilakukan, jika Start berhasil dengan baik maka tunggu beberapa menit untuk memastikan Motor dan bebean kerja dalam kondisi Normal.
10.  Laporkan pada operasi personel bahwa motor telah berjalan normal

4.3       Sistem Proteksi Pada Motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air  (62-GB-602M)
            Alat yang digunakan untuk proteksi pada motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M) adalah SIEPROTEK 7SJ602. Alat tersebut merupakan alat yang mampu memproteksi gangguan baik pada peralatan maupun jaringan listrik, sistem proteksinya berbasis Digital MicroController Multifunction Protection. Adapun yang diproteksi oleh SIEPROTEK 7SJ602 antara lain:
a)      Ground Faults / Gangguan Fasa ke Tanah (50N/51N)
b)      Over Current / Arus Lebih (50/51)
c)      Unbalance / Negative Sequence Over Current (46)

Prinsip kerja SIEPROTEK 7SJ602 yaitu mengolah data yang diperoleh dari CT (Current Transformer), dikirim ke Communication Card dan dibandingkan dengan settingan yang ada pada Memory Card, kemudian ditampilkan di Display Sieprotek sekaligus disimpan data gangguan pada simulasi sistem gangguan.
Apabila terjadi gangguan arus lebih 150% dari arus nominal pada motor dengan ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 5,25 A maka arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada motor    = Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
                                                 = 300/5 x 5.25
                                                 = 315 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik Siemens AG adalah 154.2 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada motor 315 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 154.2 detik dan di MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Over Current (51) : 315 A.
            Ketika gangguan arus lebih 315 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 154,2 detik memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14 terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4 membuka dan motor2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan arus lebih 200% dari arus nominal pada motor dengan ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 7,0 A maka arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada motor     = Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
                                                 = 300/5 x 7.0
                                                 = 420 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik Siemens AG adalah 63.24 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada motor 63.24 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 63.24 detik dan di MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Over Current (51) : 420 A.
            Ketika gangguan arus lebih 420 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 63,24 detik memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14 terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4 membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan arus lebih 250% dari arus nominal pada motor dengan ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 8,75 A maka arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada motor    = Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
                                                 = 300/5 x 8,75
                                                 = 520 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik Siemens AG adalah 34.67 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada motor 520 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 34.67 detik dan di MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Over Current (51) : 520 A.
            Ketika gangguan arus lebih 520 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 34,67 detik memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14 terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4 membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan arus lebih 300% dari arus nominal pada motor dengan ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 10,5 A maka arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada motor    = Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
                                                 = 300/5 x 10.5
                                                 = 630 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik Siemens AG adalah 21.83 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada motor 630 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 21.83 detik dan di MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Over Current (51) : 630 A.
            Ketika gangguan arus lebih 315 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 21,83 detik memeriantahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14 terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4 membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan arus lebih 400% dari arus nominal pada motor dengan ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 14 A maka arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada motor    = Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
                                                 = 300/5 x 5.25
                                                 =  840 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik Siemens AG adalah 12.19 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada motor 840 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 12.19 detik dan di MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Over Current (51) : 840 A.
            Ketika gangguan arus lebih 840 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 12,19 detik memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14 terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4 membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan fasa ketanah (Ground Faults) maka arus pada jaringan (fasa) akan menurun, ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 0,75 A maka arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada fasa ketanah = Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
                                                        = 300/5 x 0.75
                                                        = 45 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik Siemens AG adalah 1,240 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada fasa ke tanah 45 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 1,240 detik dan di MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Ground Fault (50G) : 45 A.
            Ketika gangguan fasa ke tanah 45 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 1,240 detik memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14 terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4 membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan fasa ketanah (Ground Faults) maka arus pada jaringan (fasa) akan menurun, ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 1 A maka arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada fasa ketanah = Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
                                                        = 300/5 x 1
                                                        = 60 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik Siemens AG adalah 1,240 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada fasa ke tanah 60 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 0,830 detik dan di MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Ground Fault (50G) : 60 A.
            Ketika gangguan fasa ke tanah 60 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 0,839 detik memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14 terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4 membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan arus urutan negatif atau unbalance maka arus pada antara fasa dengan fasa yang lain tidak seimbang, ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 1,2 A maka arus gangguan pada motor adalah :
Arus Urutan Negatif                = Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
                                                 = 300/5 x 1.2
                                                 = 72 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik Siemens AG adalah 5,132 detik, maka apabila terjadi arus urutan negatif pada motor 72 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 5,132 detik dan di MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Negative Sequence Overcarent (50G) : 72 A.
            Ketika gangguan arus urutan negartif 72 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 5.132 detik memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14 terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4 membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan arus urutan negatif atau unbalance maka arus pada antara fasa dengan fasa yang lain tidak seimbang, ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 7,5 A maka arus gangguan pada motor adalah :
Arus Urutan Negatif                = Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
                                                 = 300/5 x 7.5
                                                 =  450 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik Siemens AG adalah 1,085 detik, maka apabila terjadi arus urutan negatif pada motor 450 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 1,085 detik dan di MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Negative Sequence Overcarent (50G) : 450 A.
            Ketika gangguan arus urutan negartif 450 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 1.085 detik memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14 terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4 membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air (62-GB-602M) berhenti (trip).







BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan
            Dari hasil Kerja Praktek yang telah saya lakukan, maka dapat saya simpulkan bahwa:
1.      Penggunaan alat proteksi multiprotection SIEPROTEK 7SJ602  sangat berguna untuk pengamanan motor.
2.      Alat proteksi yang digunakan untuk motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing  Air  (62-GB-602M) menggunakan SIEPROTEK 7SJ602 memproteksi arus lebih (50N/51N) dan bekerja pada saat arus mencapai 150%, 200%, 250%, 300%, dan 400% daripada arus nominal, maka dibaca arus pada relay yaitu 5,25 A, 7,0 A, 8,75 A, 10,5 A, dan 14,0 A.
3.      SIEPROTEK 7SJ602 memproteksi Arus lebih 200% daripada arus nominal, maka dibaca arus pada relay sebesaar 10 A dan trip sehingga motor shutdown.

5.2  Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan yaitu:
1.      Selalu perhatikan pada settingan relay SIEPROTEK 7SJ602, karena berbeda dengan relay yang biasa, karena relay jenis ini memiliki beberapa fungsi dalam memproteksi, bukan hanya motor saja.
2.      Bagi mahasiswa yang belum atau sedang melaksanakan kerja praktek agar sedikitnya memahami prinsip kerja relay maupun PLC. Hal ini sangat penting.
3.      Perkembangan Sistem Proteksi terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman, jadi jangan hanya terpaku pada satu arah, namun alangkah baiknya kecanggihan proteksi ini patut di bandingkan.

DAFTAR PUSTAKA


A.E, Fitzgerald. 1997. Mesin-Mesin Listrik. Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga

Eugene C. Lister. 1993 Mesin dan Rangkaian Listrik Edisi Keenam.                  Jakarta: Erlangga

Drs. Yon Rijino. 1994. Dasar Teknik Tenaga Listrik. Edisi Revisi.       Yogyakarta: Andi

Urea2. 2004 Standard Operating Procedure Start, Stop and Switch Rotating Machine. Lhokseumawe : PT. Pupuk Iskandar Muda

Urea2. 2004 Prosedur Baku Pabrik Urea II. Lhokseumawe : PT. Pupuk Iskandar Muda

Manual Handbook VEM Germany Motor, Germany: VEM Germany

Simens. 2003. Siprotec 7SJ602 Multifunction Overcurren and Motor Protection Relay. Germany: Siemens Electric

Toyo Engineering Corp, Rekayasa Industri,  Krakatau Engineering Corp. 2001. Piping and Instrumentation Diagram Urea Unit PIM II Project. Lhokseumawe: PT. Pupuk Iskandar Muda

Toyo Engineering Corp, Rekayasa Industri,  Krakatau Engineering Corp. 2001. Interlocking Logic Diagram Urea. Lhokseumawe: PT. Pupuk Iskandar Muda

Listrik PIM II, 2010. Bahan Pelatihan Motor-motor Listrik, jaringan Sistem Distribusi Listrik untuk Operator Pabrik Urea II dan Personil Analis Laboratorium. Lhokseumawe: PT. Pupuk Iskandar Muda

http//:www.pim.co.id







Tidak ada komentar:

Posting Komentar