ABSTRAK
Motor induksi merupakan motor arus bolak-balik yang paling
luas digunakan. Penamaan berasal dari kenyataan bahwa arus rotor motor ini
bukan diperoleh dari sumber tertentu, tetapi merupakan arus yang terinduksi
sebagai akibat adanya perbedaan relatif antara putaran rotor dengan medan putar
(rotating magnetic field) yang dihasilkan oleh stator. Belitan stator yang
dihubungkan dengan suatu sumber tegangan tiga fasa akan menghasilkan medan
magnet yang berputar dengan kecepatan sinkron (ns). Medan putar pada stator
tersebut akan memotong konduktor - konduktor pada rotor, sehingga terinduksi
tegangan. Karena rotor merupakan rangkaian tertutup, maka akan mengalir arus.
Dan sesuai dengan hukum Lenz rotorpun akan berputar mengikuti medan putar
stator. Perbedaan putaran relatif antara stator dan rotor disebut slip.
Bertambahnya beban akan memperbesar slip sehingga kenaikan tegangan iuduksi
pada rotor akan menaikkan arus rotor dan akibatnya akan memperbesar kopel.
Dalam tulisan ini akan dibahas sistem proteksi pada motor induksi.
Kata Kunci : Motor Induksi, Ganguan, Proteksi
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan suatu negara
maka semakin maju pula suatu negara itu. Terutama pada sektor industri,
penggunaan motor-motor listrik dari yang berkapasitas kecil sampai yang
berkapasitas besar sangat diperlukan. Motor
lisrtik adalah sebagai peralatan konversi yang merubah energi listrik
menjadi energi mekanik diharapkan untuk mendapat perubahan energi yang efesien.
Motor-motor listrik ini biasanya digunakan untuk mesin-mesin pompa, mesin
penggerak, mesin penggiling dan sebagainya.
Salah satunya adalah PT.
Pupuk Iskandar Muda, seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia adalah Negara
Agraris yang sebagai besar mata pencahariannya adalah sektor pertanian. Oleh
karena itu untuk mendukung hal ini maka kemajuan dalam bidang-bidang pertanian
sangatlah menguntungkan.
Pada saat sekarang ini diantara jenis-jenis motor listrik
yang banyak digunakan adalah jenis motor induksi, dibandingkan dengan motor
listrik yang lain. Hampir semua industri menggunakan motor induksi tiga fasa,
baik industri kecil, menengah dan besar, motor induksi digunakan karena sangat
praktis dan efisien. Hal ini dikarena
motor induksi mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya kontruksinya yang
sederhana dan kokoh, efisiensi yang tinggi, mudah dioperasikan, mudah perawatan dan harga relatif murah.
Pengaruh
terbesar dalam PT. Pupuk Iskandar Muda yaitu pada proses produksi pupuknya.
Proses produksi yang terhambat menimbulkan akibat kerugian bagi perusahaan,
sistem proteksi yang handal sudah teraplikasikan di dalam perusahaan ini.
Sistem proteksi digunakan pada berbagai macam perlatan, pada motor, generator,
distribusi jaringan listrik dan lain sebagainya. Karena pentingnya sistem
proteksi dalam sebuah perusahaan atau pabrik sebagai penunjang berhasilnya proses
produksi pupuk. Maka penulis mengambil suatu rumusan masalah dan menyusun
sebuah laporan kerja praktek dengan judul ”
SISTEM PROTEKSI PADA MOTOR 2,4 kV
FORCED FAN FOR FLUIDIZING AIR (62-GB-602M) DI UREA ACES-GRANUL PT. PUPUK ISKANDAR MUDA II ”
1.2
Rumusan
Masalah
Ruang lingkup pembahasan yang dilakukan adalah mengetahui prinsip kerja
motor induksi 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M), kegunaan motor induksi 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) di Urea Aces-Granul Pabrik 2 PT. PIM serta sistem proteksi
pada motor induksi 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) di di Urea Aces-Granul Pabrik.
1.
Apa saja yang diproteksi oleh sebuah alat proteksi SIEPROTEK
7JS602.
2.
Bagaimana sistem proteksi bekerja.
3.
Bagaimana proses terjadi trip apabila terjadi gangguan pada motor induksi 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing
Air (62-GB-602M).
1.3 Batasan
Masalah
Pembahasan
laporan Kerja Praktek ini penulis hanya membahas tentang Sistem Proteksi pada Motor 2,4 kV Forced Fan for
Fluidizing Air (62-GB-602M) di Urea Aces-Granul PT. Pupuk Iskandar Muda II.
Dalam hal ini perhitungan dan analisa secara matematis tidak dibahas.
1.4
Tujuan
Adapun tujuan dari Kerja
Praktek yang dilakukan di PT. Pupuk Iskandar Muda adalah :
1.
Membandingkan, mengamati, menganalisa dan menerapkan
antara ilmu yang didapat dibangku perkuliahan dengan ilmu yang diterapkan pada
Kerja Praktek.
2.
Menambah ilmu pengetahuan serta wawasan mengenai sistem
peralatan industri, sarana penunjang, manajemen dan disiplin perusahaan.
3.
Dapat mengetahui secara langsung bagaimana proses sistem proteksi pada motor
induksi 2,4 kV Forced Fan for Fluidizing Air (62-GB-602M).
4.
Dapat mengetahui cara kerja sistem proteksi pada motor 2,4 kV Forced
Fan for Fluidizing Air (62-GB-602M) menggunakan SIEPROTEK 7JS602.
5.
Menambah pengalaman di dunia kerja dan hal tersebut dapat
menjadi referensi bagaimana dunia kerja pada kondisi sebenarnya.
1.5 Tempat
Pelaksanaan
Kerja praktek dilaksanakan di PT. Pupuk Iskandar Muda Krueng
Geukueh Aceh Utara mulai tanggal 1 Maret sampai dengan 31 April 2010.
1.6
Metode Penulisan
Dalam penulisan laporan
ini penulis melakukan penelitian dengan metode sebagai berikut:
1.
Melakukan observasi
Merupakan kegiatan yang dilakukan dilapangan, yaitu
mengumpulkan data dengan survei dan wawancara langsung dengan pembimbing
lapangan .
2.
Metode studi literatur
Yaitu dengan cara membaca dan mengambil teori dengan
buku-buku manual dan referensi lainnya yang berhubungan dengan penulisan.
1.7
Sistematika Penulisan
Agar penulisan lebih mengarah, maka penulis membagi penulisan
laporan kerja praktek ini dalam 5 bab dan masing-masing bab dirinci kedalam sub
bab sehingga sistematika pembahasan dapat dijelaskan sebagai
berikut:
BAB
I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang, permasalahan, pembatasan masalah, tujuan,
dan sistematika penulisan.
BAB II PROFIL
PT. PUPUK ISKANDAR MUDA
Bab
ini berisi tentang sejarah singkat, lokasi, sistem manajemen, struktur organisani,
unit produksi, unit penunjang, sistem kelistrikan dan sistem ditribusi listrik
PT. Pupuk Iskandar Muda.
BAB III DASAR
TEORI
Bab
ini berisi tentang sistem kerja
relay dan motor induksi di PT. Pupuk Iskandar Muda, prinsip kerja relay dan motor induksi
serta sistem proteksi yang digunakan.
BAB VI SISTEM PROTEKSI PADA MOTOR 2,4 kV
FORCED FAN FOR FLUIDIZING AIR (62-GB-602M)
Bab
ini berisi tentang prinsip kerja maupun
prosedur pengoperasian motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air
(62-GB-602M) serta sistem proteksinya. Bagaimana sistem trip pada motor 2,4
kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M).
BAB V PENUTUP
Bab
ini berisi tentang kesimpulan dan saran dari kegiatan Kerja Praktek yang
dilakukan.
BAB II
SEJARAH PERUSAHAAN
PT. PUPUK ISKANDAR MUDA
Dengan adanya kandungan gas alam yang terdapat di
Kabupaten Aceh Utara dan tersedianya lokasi yang strategis di daerah pantai
serta adanya jalan raya yang melintasi daerah ini, maka daerah ini sangat
menunjang bagi pertumbuhan industri besar dan kecil terutama yang menggunakan
sumber daya alam yang berupa gas alam dan hasil hutan sebagai bahan baku
industri kecil, maupun industri-industri keterkaitannya dengan industri hilir.
Pupuk urea merupakan salah satu produk strategis yang sangat penting peranannya
dalam menunjang produksi pertanian.
2.1. Sejarah Ringkas PT. Pupuk
Iskandar Muda
PT. Pupuk Iskandar Muda didirikan pada tanggal 24 Februari 1982 dihadapan
Notaris Soelaiman Ardjasasmita, SH sesuai akte No. 54 dengan nama PT. Pupuk
Iskandar Muda, yang merupakan suatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah
naungan Meneg. Pendayagunaan BUMN. Pembangunan proyek pabrik PIM ini awalnya
dirintis oleh PT. PUSRI Pelembang sejak 1981, didukung dekat dengan sumber alam
dan air yang merupakan bahan baku utama pembuatan pupuk urea, loksi pembangunan
pabrik ditetapkan di Krueng Geukueh,
Kabupaten Aceh Utara. Penandatanganan kontrak pembangunan pabrik dilakukan 2
Oktober 1981 antara Pemerintah RI yang dilaksanakan oleh Departemen
Perindustrian c/q Dirjen Industri Kimia Dasar
dengan kontraktor utama PT. Rekayasa Industri
dari Indonesia dan Toyo Engineering Coorporation dari Jepang. Pembangunan
pabrik dimulai 13 Maret 1982 dan selesai tiga bulan lebih awal dari rencana,
pada akhir tahun 1984 pabrik mulai berproduksi, pengapalan perdana dilakukan 17
Februari 1985. Pada tanggal 20 Maret 1985 pabrik diresmikan oleh Presiden RI dn
beropersai secara komersial dimulai 1 April 1985.
2.2. Lokasi dan Area Pabrik PT. Pupuk Iskandar Muda
Lokasi pabrik PT. Pupuk
Iskandar Muda terletak di wilayah zona industri Lhokseumawe. Pabrik ini
berdampingan dengan pabrik PT. Asean Aceh Fertilizer (AAF) dan pabrik gas alam
cair PT. ARUN, serta tersedianya sarana pelabuhan yang cukup strategis di
samping jalan raya dan transportasi yang memadai. Adapun untuk keperluan
pembangunan PT. Pupuk Iskandar Muda dengan rencana pembangunannya, telah
dibebaskan tanah seluas 323 Ha, dengan perincian : 162 Ha untuk keperluan
pabrik dan perkantoran, serta 161 Ha untuk kebutuhan perumahan dan sarana
fasilitasnya.
2.3. Kepedulian
Lingkungan
PT. Pupuk Iskandar Muda memiliki komitmen yang sangat
kuat bahwa pengendalian limbah pabrik, baik limbah cair, padat, gas maupun debu
merupakan aspek penting yang harus diprioritaskan pengelolaannya. Upaya
pengendalian lingkungan yang dilakukan dengan cara mencegah terjadinya
pencemaran lingkungan seminimal mungkin.
·
Pengendalian limbah dilakukan dengan proses stripping, scrubber,
recovery, aerasi dan netralisasi.
·
Pemanfaatan gas buang (purge gas), sehingga dihasilkan H2 murni dengan system Hydrogen Recovery Unit.
·
Pemanfaatan condensate, sehingga dihasilkan condensate yang tidak
mengandung ammonia dengan sistem stripping.
·
Penyerapan gas ammonia, sehingga dapat mencegah terjadinya
pencemaran udara dengan sistem scrubber.
·
Pengelolaan limbah cair dengan sistem aerasi dan netralisasi,
sehingga limbah cair yang dibuang ke media lingkungan, memenuhi baku mutu dan tidak
mencemari lingkungan.
· Pemasangan silencer (peredam) pada alat mesin, sehingga kebisingan yang
ditimbulkan dapat dikurangi.
· Penyerapan debu urea dengan dust recovery system, sehingga dapat mengurangi
pencemaran debu urea.
2.4. Pembinaan
Wilayah
PT. Pupuk Iskandar Muda selalu berperan aktif dalam
pembangunan daerah dan masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,
khususnya di Kabupaten Aceh Utara. Program pembinaan wilayah yang dilaksanakan
secara berkesinambungan oleh PT. Pupuk Iskandar Muda telah membawa dampak yang
cukup signifikan dalam menjaga kelangsungan usaha serta pengamanan asset
perusahaan.
Pembinaan wilayah yang dilakukan, antara lain : bantuan
penyediaan fasilitas pendidikan, sosial-budaya, kesehatan, olah raga, dan
keagamaan. Pembinaan dilaksanakan melalui kerjasama dengan beberapa instansi
terkait, seperti : Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, Pemuka Masyarakat, Ulama, Tokoh
Pemuda dan Pengurus
Badan Dakwah Islamiyah
Al Muntaha PT. Pupuk Iskandar
Muda.
Disamping pembinaan wilayah yang langsung ditangani oleh
perusahaan sejak tahun 1994, lembaga lain yang juga ikut melakukan kegiatan
kemasyarakatan adalah Yayasan Amil Zakat (YAZ) Al Muntaha PT. Pupuk Iskandar
Muda. Yayasan ini mengelola zakat, infaq dan sedekah dari karyawan PT. Pupuk
Iskandar Muda
Realisasi pembinaan wilayah yang telah dilakukan oleh PT. Pupuk Iskandar
Muda, antara lain :
· Mendirikan LOLAPIL (Loka
Latihan Keterampilan) untuk mendidik para pemuda dari desa sekitar dengan
berbagai macam bidang keterampilan, seperti : pertanian, peternakan, perikanan,
pengelasan, dan pertukangan.
· Membantu pembangunan rumah
sangat sederhana kepada keluarga miskin yang berdomisili di sekitar perusahaan.
· Memberi kesempatan kepada
masyarakat sekitar untuk memanfaatkan lahan seluas 23 ha milik PT. Pupuk
Iskandar Muda.
· Memberi beasiswa kepada siswa
yang berprestasi untuk melanjutkan studi, baik di dalam maupun di luar negeri.
· Menyalurkan bantuan obat-obatan secara
periodik kepada Puskesmas di sekitar perusahaan.
· Membantu sarana olahraga untuk
beberapa desa di sekitar perusahaan sehingga dapat dimanfaatkan oleh para
pemuda.
2.5. Prestasi Dan Penghargaan
Sejak beroperasi secara komersil tahun 1985, PT. Pupuk
Iskandar Muda telah beberapa kali menerima penghargaan dan sertifikat dari
Pemerintah dan lembaga tertentu atas keberhasilan dalam pengelolaan perusahaan
secara keseluruhan, antara lain sebagai berikut :
Tabel 2.1 Prestasi dan Penghargaan PT. Pupuk Iskandar Muda (PT. PIM)
PRESTASI DAN PENGHARGAAN
|
TAHUN
|
"Upakarti" dari Presiden RI “PT. PIM sebagai Pembina Industri
Kecil"
|
1986
|
Juara I Perusahaan Teladan Bidang KKK se NAD
|
1987
|
"Sword of
Honour", Pedang Kehormatan Keselamatan Kerja dari British Safety
Council.
|
1989,1993,1996, 1997
|
"Sahwali Award", Pengusaha Berwawasan Lingkungan dari PIPLI
|
1991, 1994
|
"Nihil Kecelakaan Kerja" dari Menteri terkait
yang diserahkan oleh Presiden R.I.
|
1992, 1994, 1995,1996, 1998, 2002, 2003, 2007
|
"Primaniyarta" dari Presiden R.I dalam
prestasi bidang ekspor non Migas.
|
1992, 2001, 2002
|
"Proper - Prokasi", Peringkat Biru
|
1994, 1996, 1997
|
"Five Star Grading" bidang KKK
|
1995/1996, 1996/1997, 1997/1998, 2000/2001
|
"Bakti Koperasi" bidang Pembinaan Koperasi
|
1996
|
"Adi Manggala Krida" dari Presiden R.I.
|
1996
|
ISO – 9002 : 1994, bidang Sistem Manajemen Mutu
|
1997, 2000
|
ISO – 14001 : 1996, bidang Sistem Manajemen
Lingkungan
|
1998, 2002
|
“Bendera Emas” dari Presiden R.I.
|
2002
|
ISO – 9001 : 2000, bidang Sistem Manajemen Mutu
|
2003
|
2.6. Pabrik dan Sarana Pendukung
Pabrik dan sarana produksi
terdiri dari beberapa unit, yaitu unit utilitas, unit ammonia dan unit area.
2.6.1 Unit Utilitas
Unit ini berfungsi untuk
memproses penyediaan kebutuhan bahan baku seperti :
a.
Air bersih untuk bahan baku, air untuk
pendingin, air bebas mineral untuk ketel uap, uap air (steam), udara
instrument, tenaga listrik dan oksigen serta nitrogen.
b.
Bahan baku berupa air diperoleh dari Krueng
Peusangan, tenaga listrik dibangkitkan oleh Genarator Turbin Gas berkapasitas
15 MW.
c.
Bahan baku udara yang diperoleh dari udara
bebas di dalam Fractionation Colum didinginkan dengan berdasarkan perbedaan
titik embun, sehingga unsur oksigen dan nitrogen dapat dipisahkan lagi.
Adapun unit-unit di pabrik utilitas adalah sebagai berikut:
a.
Unit Water Intake Facility
b.
Unit Pengolahan Air
-
Clarifier Grafity
-
Sand filter
-
Filter Water Reservoir
-
Activated Carbon Filter
-
Demineralizer
c.
Unit Pembangkit Steam
-
Package Boiler
-
Waste Heat Boiler
d.
Unit Udara Instrument/ Udara Pabrik
e.
Unit Air Separation Plant
f.
Unit Gas Mattering Station
g.
Unit Pengolahan Limbah Buangan
h.
Unit Pabrik CO2 dan Dry Ice
i.
Unit Pembangkit Listrik
-
Main Generator
-
Stand By Generator
-
Emergency Generator
Main Generator adalah unit pembangkit energi listrik
utama yang digerakkan oleh turbin gas,
generator ini berkapasitas 15 MW dengan tegangan yang dihasilkan 13,8 KV, tiga phasa di dalam switch room di
utility, dari bus ini didistribusikan ke switch room lain dengan
tegangannya diturunkan melalui trafo
step down (13,8 KV - 2,4 KV) dan diturunkan lagi oleh trafo step down ke bus
480 V, kemudian diturunkan lagi dengan trafo step down ke 220 V.
Apabila Main Generator bermasalah, maka tenaga listrik
akan dibebankan kepada Stand By Generator, generator ini mempunyai dua fungsi
bahan bakar yaitu minyak solar dan bisa juga bahan bakar gas alam, Stand By
Generator berkapasitas 1.5 MW dengan tegangan
yang dihasilkan 2,4 KV, tiga phasa.
Sebelum Stand By Generator mengambil alih beban terlebih dahulu bekerja
Emergency Generator, ini akan berlansung bekerja ± 10 detik setelah electric
failure terjadi dan generator ini siap untuk dibebani. Generator ini
digerakkan oleh minyak solar.
Selain tiga pembangkit di atas juga terdapat suatu system
beterai yaitu UPS (Uninterrupted Power Supply) yang berfungsi untuk mensuplai
tenaga listrik keperalatan instrumentasi, paging dan alarm, yang mana peralatan
tersebut tidak boleh terputus supply tenaga listriknya.
2.6.2 Unit Ammonia.
Unit ini berkemampuan memproduksi ammonia 1.170 ton/ hari
atau 386.000 ton/ tahun, menggunakan proses Kellog dari Amerika dengan bahan
baku gas alam, uap air (steam), dan udara. Gas alam di bebaskan dari senyawa
impurities (senyawa-senyawa ikutan) kemudian diubah menjadi gas sintesa H2,
CO2 dn N2. Gas sintesa kemudian di konversikan menjadai
ammonia, setelah beberapa reaksi dan pemurnian, ammonia ini siap dikirim untuk
proses pabrik urea atau sebagai produk lansung ammonia.
Adapun proses produksi di pabrik Ammonia adalah sebagai berikut :
a.
Sistem Persiapan Gas Umpan Baku
-
Desulfurizer
-
Mercury Guard Chamber
-
CO2 Preatment Unit (CPU)
-
Hydrotreater
-
ZnO Guard Chamber
b.
System Pembuatan Gas Sintesa
-
Primary Refomer
-
Secondary Reformer
-
Shift Converter
c.
System Pemurnian Gas Sintesa.
-
CO2 Absorber
-
CO2 Striper
-
Methanator
d.
System Sintesa Ammonia
e.
System Pendinginan Ammonia
f.
Sistem Daur Ulang Ammonia
g.
Sistem Daur Ulang Hidrogen (HRU)
2.6.3 Unit Area
Dengan menggunakan proses Mitsui
Toatsu Total recycle C Improved. Unit ini mampu memproduksi pupuk urea butiran
dengan kapasitas terpasang 1.725 ton/ hari
atau 570.000 ton/ tahun. Urea yang dihasilkan di simpan dalam Bulk
storae ataupun dikirm ke unit pengantongan. Urea dibuat dengan mereaksikan
ammonia dengan carbondioksida, larutan urea murni dikristalkan secara vakum,
kemudian dilelehkan kembali dalam Melter dengan menggunakan Steam sebagai
pemanas. Dari atas Prilling
Tower lelehan urea di
teteskan yang kemudian akan memadat
setelah didinginkan dengan udara.
Adapun proses yang terjadi di pabrik
urea adalah sebagai berikut:
a.
Seksi Sintesa
b.
Seksi Penguraian/Pemurnian
c.
Seksi Daur Ulang
d.
Seksi Pengkristalan dan Pembutiran
2.7. Unit Penunjang Produksi
Pabrik PT. Pupuk Iskandar
Muda di lengkapi dengan unit penunjang produksi, diantaranya :
1.
Unit Pelabuhan PT. Pupuk Iskandar Muda mampu
disandari kapal-kapal curah berbobot mati sampai 25.000 DWT. Kedalaman
rata-rata 10.5 meter pada saat air surut dan dilengkapi dengan sarana untuk
membuat pupuk curah kedalam kapal (Ship Loader). Serta sarana air minum dan sarana navigasi.
2.
Gudang urea curah lengkap dengan Portal Scrapper dan ban
berjalan
3.
Laboratorium pengendalian produksi yang
berada di unit utiliti, unit ammonia dan unit urea.
4.
Laboratoprium
utama yang selalu memeriksa mutu hasil produksi dan memonitor limbah.
5.
Perbengkelan yang menunjang pemeliharaan
pabrik dan bengkel perbaikan alat-alat dan kendaraan.
2.8. Pencegah Pencemaran
PT. Pupuk Iskandar Muda
sejak semula telah memasukkan ke dalam konsep rancangannya masalah pengolahan
lingkungan hidup. Menjaga kelestarian lingkungan dan
keseimbangan ekosistem adalah komitmen dasar PT. Pupuk Iskandar Muda menjadikan
dalam dirinya sebagai perusahaan yang berwawasan lingkungan. Upaya ini antara
lain dengan cara mencegah sekecil mungkin terjadinya pencemaran lingkungan.
Bahan buangan pabrik PT. Pupuk Iskandar Muda tidak berbahaya, karena seluruh
peralatan telah dirancang sedemikian rupa dengan dilengkapi proses daur ulang
bahan buangan.
a.
Buangan berupa gas dari pabrik tidak
mengundang gas berbahaya dan sebagian besar berupa uap air.
b.
Air buangan diproses di kolam pembuangan yang
berfungsi untuk pengendapan padatan yang terlarut, pengontrolan PH serta
penambahan kandungan oksigen.
c.
Debu urea
yang terjadi pada saat pembutiran diserap dan diamankan dengan urea
filter dengan sistem Wet Scrubbler (penangkapan debu dengan air).
d.
Kebisingan dari mesin dikurangi dengan
memasang cerobong.
2.9. Struktur Organisasi PT.
Pupuk Iskandar Muda
Organisasi dapat diartikan
sebagai suatu sistem dari aktivitas yang dilakukan dua orang atau lebih untuk
mencapai suatu tujuan bersama, didalam organisasi pembagian tugas adalah suatu
keharusan, pembagian tugas akhirnya menghasilkan departemen-departemen dan job
description dari masing-masing departemen sampai unit-unit terkecil dalam
organisasi. Struktur organisasi dalam suatu perusahaan sangat diperlukan untuk
merumuskan suatu organisasi harus dapat menunjang keberhasilan perusahaan,
perusahaan yang berhasil dalam mencapai tujuan tidak hanya tergantung pada
modal dan proses industrinya tetapi tergantung pada sistem menajemen yang baik, yang mana untuk ini diperlukan
struktur organisasi yang fleksibel dan berkembeng sesuai dengan kondisi yang dihadapi perusahaan. Semua unsur organisasi perusahaan dalam pelaksanaan kegiatan wajib menerapkan prinsip
koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik interen maupun eksteren untuk mencapai kesatuan gerak secara
sinergi yang disesuaikan
dengan tugas pokok masing-masing.
Dewan Direksi (Board of
Direktor) berfungsi mengelola perusahaan secara koorperat sesuai dengan yang
telah ditetapkan pemegang saham melalui kebijakan strategi fungsional seperti :
pemasaran, keuangan, pengembangan dan pemeberdayaan seluruh aset dan potensi
yang dimiliki. Secara struktural unit
kerja di bawah direksi eselon 1 adalah Kompartemen, Sekretaris Perusahaan dan
Satuan Pengawasan Interen (SPI) yang
dipimpin oleh kepala Kompartemen atau setingkat Kepala Kompartemen (KaKomp).
Unit kerja dibawah kompartemen disebut Departemen atau Biro. Unsur-unsur
organisasi PT. Pupuk Iskandar Muda, terdiri dari :
1.
Unsur Pimpinan adalah Direksi yang terdiri dari : Direktur Utama, Direktur Umum, Direktur
Produksi, Direktur Keuangan dan Komersil, Direktur Teknik dan Pengembangan.
2.
Unsur Pelaksanaan adalah terdiri dari :
Sekretaris Perusahaan, Satuan Pengawaan
Interen (SIP) dengan Kompartemen Administrasi Keuangan, dan Pengembangan.
3.
Unsur Pelaksanaan adalah yang lansung melaksanakan
proses produksi, pemeliharaan pabrik serta yang melaksanakan pemasaran produk, yaitu : Departemen Operasi,
Departemen Pemeliharaan dan Departemen Pemasaran.
4.
Unsur Penunjang terdiri dari biro lainnya
sebagaimana yang tertera pada struktur organisasi (terlampir).
5.
Unsur Pengawasan merupakan Unit Kerja yang melakukan
pengewasan dan inspeksi seluruh kegiatan
perusahaan meiputi operasional dan keuangan yang terdiri dari : Satuan
Pengawasan interen (SPI), Biro
Inspeksi dan K-3 Biro Perencanaan Produksi dan Pengawasan Proses.
Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat dilampiran.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Sistem Proteksi
Sistem pengaman bertujuan untuk mencegah
atau membatasi kerusakan pada peralatan, dan keselamatan umum yang disebabkan
karena gangguan dan meningkatkan kelangsungan pelayanan pada konsumen. Dengan
cara dan tingkat pengamanan yang diterapkan tergantung pada banyak faktor
(antara lain : sistem yang termasuk cara pentanahannya, peralatan, kondisi dan
peraturan setempat dan macam beban), dan merupakan kompromi praktis yang
memungkinkan untuk cukup memenuhi kebutuhan dan yang dibandingkan dengan biaya.
Karakteristik beban sangat mempengaruhi perencanaan pengaman.
3.1.1 Relay
Relay adalah suatu peralatan listrik yang berfungsi untuk
menghubungkan dan memutuskan tegangan listrik yang dapat diatur sesuai dengan
setting waktu yang telah ditentukan. Relay mempunyai anak kontak “NO” yang
disebut dengan On-delay dan anak kontak “NC” yang disebut Off-delay. Pada saat
On-delay di-ON-kan maka On-delay akan bekerja sesuai dengan waktu yang telah
diset.
Ada juga relay yang digunakan sebagai pengaman yang
disebut dengan thermal over load adalah alat pengaman peralatan listrik
terhadap beban lebih. Pengaman ini bekerja berdasarkan prinsip panas yang
ditimbulkan oleh adanya arus lebih yang melebihi arus setting nominalnya.
Energi panas tersebut diubah menjadi energi mekanik oleh
logam bermetal untuk melepaskan kontak-kontaknya. Dengan terlepasnya kontak
akibat arus yang mengalir diatas harga nominal maka akan membuka atau
memutuskan suatu rangkaian listrik sehingga melindungi peralatan listrik dari
kerusakan yang diakibatkan oleh adanya arus lebih tersebut. Thermal over load
ini banyak digunakan sebagai pelindung motor-motor listrik.
a)
b)
b)
Gambar 3.1 Contoh Relay, a) Relay
Power dan b) Phase Inverse Time Overcurrent Relay
3.2 Motor
Induksi
Motor induksi merupakan motor yang paling umum digunakan pada berbagai
peralatan industri. Popularitasnya karena rancangannya yang sederhana, murah
dan mudah didapat, dan dapat langsung disambungkan ke sumber daya AC.
A. Komponen
Motor induksi memiliki dua komponen listrik utama (Gambar 3.1).
- Rotor. Motor induksi menggunakan dua jenis rotor:
- Rotor kandang tupai terdiri dari batang penghantar tebal yang dilekatkan dalampetak-petak slots paralel. Batang-batang tersebut diberi hubungan pendek pada kedua ujungnya dengan alat cincin hubungan pendek.
- Lingkaran rotor yang memiliki gulungan tiga fase, lapisan ganda dan terdistribusi. Dibuat melingkar sebanyak kutub stator. Tiga fase digulungi kawat pada bagian dalamnya dan ujung yang lainnya dihubungkan ke cincin kecil yang dipasang pada batang as dengan sikat yang menempel padanya.
- Stator. Stator dibuat dari sejumlah stampings dengan slots untuk membawa gulungan tiga fase. Gulungan ini dilingkarkan untuk sejumlah kutub yang tertentu. Gulungan diberi spasi geometri sebesar 120 derajat.
![]() |
Gambar 3.2 Motor Induksi (Automated Buildings)
3.2.1 Stator
Seperti
telah diketahui bahwa stator adalah salah satu bagian dari motor induksi yang
diam. Pada stator ini biasanya terdapat inti dan belitan stator. Pada umumnya
inti stator merupakan besi lunak berbentuk slindris tebal dan bagian permukaan
dalamnya merupakan alur-alur yang memanjang, dibuat dengan menyusun
laminasi-laminasi besi tipis yang disusun melingkar dan menebal sehingga
manjadi sebuah bentuk yang selindris. Alur-alur ini memanjang dan merata, akan
diisi dengan kumparan-kumparan belitan stator.

Gambar 3.3
kontruksi stator motor induksi
3.2.2
Rotor
Rotor adalah bagian dari motor induksi yang berputar (
Bergerak ). Rotor dari motor induksi ada 2 ( dua ) jenis yaitu jenis belitan
dan jenis sangkar. Untuk kedua jenis ini konduktor-konduktor rotor diletakan
pada alur-alur dari susunan laminasi-laminasi inti besi rotor yang sekaligus
menyatu lubang konduktor rotor.
![]() |
![]() |
||
Rotro Belitan Rotor
sangkar
Gambar 3.4 Kontruksi rotor motor induksi
3.3 Klasifikasi Motor Induksi
Motor induksi dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama (Parekh,
2003):
- Motor induksi satu fase. Motor ini hanya memiliki satu gulungan stator, beroperasi dengan pasokan daya satu fase, memiliki sebuah rotor kandang tupai, dan memerlukan sebuah alat untuk menghidupkan motornya. Sejauh ini motor ini merupakan jenis motor yang paling umum digunakan dalam peralatan rumah tangga, seperti fan angin, mesin cuci dan pengering pakaian, dan untuk penggunaan hingga 3 sampai 4 Hp.

Gambar 3.5 Rangkaian Motor pada Peralatan Rumah Tangga
- Motor induksi tiga fase. Medan magnet yang berputar dihasilkan oleh pasokan tiga fase yang seimbang. Motor tersebut memiliki kemampuan daya yang tinggi, dapat memiliki kandang tupai atau gulungan rotor (walaupun 90% memiliki rotor kandang tupai); dan penyalaan sendiri. Diperkirakan bahwa sekitar 70% motor di industri menggunakan jenis ini, sebagai contoh, pompa, kompresor, belt conveyor, jaringan listrik, dan grinder. Tersedia dalam ukuran 1/3 hingga ratusan Hp.

Gambar 3.6
Rangkaian Sistem Kendali Elektromagnetik pada Motor Induksi 3 Fasa
3.4 Kecepatan Motor Induksi
Motor induksi bekerja sebagai berikut. Listrik dipasok ke stator yang akan
menghasilkan medan magnet. Medan magnet ini bergerak dengan kecepatan sinkron
disekitar rotor. Arus rotor menghasilkan medan magnet kedua, yang berusaha
untuk melawan medan magnet stator, yang menyebabkan rotor berputar.
Walaupun begitu, didalam prakteknya motor tidak pernah bekerja pada kecepatan
sinkron namun pada “kecepatan dasar” yang lebih rendah. Terjadinya perbedaan
antara dua kecepatan tersebut disebabkan adanya “slip/geseran” yang
meningkat dengan meningkatnya beban. Slip hanya terjadi pada motor
induksi. Untuk menghindari slip dapat dipasang sebuah cincin geser/ slip
ring, dan motor tersebut dinamakan “motor cincin geser/ slip ring motor”.
Persamaan berikut dapat digunakan untuk menghitung persentase slip/geseran
(Parekh, 2003):
% Slip =
..........................................................................(3.1)
Dimana:
Ns = kecepatan sinkron dalam RPM
Nb = kecepatan dasar dalam RPM
3.5 Hubungan antara beban, kecepatan dan
torque
Gambar 3.2 menunjukan grafik torque-kecepatan motor induksi AC tiga
fase dengan arus yang sudah ditetapkan. Bila motor (Parekh, 2003):
- Mulai menyala ternyata terdapat arus nyala awal yang tinggi dan torque yang rendah (“pull-up torque”).
- Mencapai 80% kecepatan penuh, torque berada pada tingkat tertinggi (“pull-out torque”) dan arus mulai turun.
- Pada kecepatan penuh, atau kecepatan sinkron, arus torque dan stator turun ke nol.

Gambar 3.7 Grafik Torque-Kecepatan Motor Induksi AC
3-Fase (Parekh, 2003)
BAB IV
SISTEM PROTEKSI
PADA MOTOR 2,4 kV FORCED FAN FOR FLUIDIZING AIR
(62-GB-602M) DI UREA ACES-GRANUL
PT. PUPUK ISKANDAR MUDA II
4.1 Umum
Motor 2,4
kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) merupakan motor penggerak blower
untuk menghembus udara pendingin ke dalam granulator (62-MA-601) pada proses
tahapan akhir (finishing) pembuatan urea granul. Jenis motor 2,4 kV digunakan
pada Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) ialah jenis motor induksi yang
diproduksikan oleh VEM Germany Electric Co, Ltd. Motor ini membutuhkan daya 630
kW dengan tegangan 2,4 kV. Frekuensi 50 Hz, arus 230 A, memiliki enam kutub
dengan putaran 1000 rpm, faktor daya 0,83 dan tipe motor ini adalah kelas F.
Motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air
(62-GB-602M) dilengkapi oleh suatu alat proteksi berbasis digital
produksi Siemens AG, Co, Ltd. dengan kode produk SIEPROTEK 7SJ602
(Multifunction Overcurrent Motor Protection) dan alat kontrol indikasi
temperatur wilding. Untuk mengantisipasi kerusakan dan kebakaran pada motor
yang menghabiskan biaya yang cukup mahal.
4.2 Prosedur
Pengoperasian Motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air
(62-GB-602M)
Untuk
menjalankan ataupun mengoperasikan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air
(62-GB-602M) harus mengikuti prosedur sebagai berikut:
1.
Perhatikan Power untuk Motor telah
tersedia. Bila belum hubungi Teknisi Listrik.
2.
Putar Shaft pada Motor bila kondisi
ringan diputar berarti motor siap dioperasikan. Bila kondisi berat diputar
hubungi Teknisi Listrik.
3.
Perhatikan kondisi pembukaan Valve
baik Suction maupun Discharge, usahakan pembukaan Valve Discharge (62-HIC-602) ±
10%, baik di DCS maupun dilapangan. Perhatikan Amper Meter pada alat ukur
dilapangan jika ada terpasang
4.
Pastikan semua peralatan dan sistem
aman untuk dioperasikan
5.
Yakinkan HS-661 pada posisi bypass,
dikarenakan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air
(62-GB-602M) mempunyai sistem interlock atau terangkai seri dengan motor
2,4 kV Induce Fan For Dust Scrubber
(62-GB-603 AM~DM)
6.
Start Motor dengan memindahkan
Selector Switch (jika ada pada CSS) dari posisi OFF ke posisi Hand / Auto jika
tidak ada selector maka cukup tekan Tombol Tekan “ON” (Push Button “ON”) pada
CSS
7.
Perhatikan indikasi suara (Sound)
dari motor maupun beban Fan atau Blower. Bila kondisi suara terdengar berisik
dan berdengung (Abnormal Sound) maka hubungi Inspeksi, Teknisi Listrik dan
Teknisi Mechanic untuk mengambil keputusan dibiarkan beroperasi ataupun
dimatikan (Shutdown).
8.
Bila terjadi gagal Start atau Motor
Jam ditandai dengan lampu indikasi di MCC (Motor Centre Control) di Panel
Distibution Power Pabrik II PT. PIM berwarna Kuning menyala atau Breaker Trip,
segera hubungi Teknisi Listrik.
9.
Lakukan pengukuran arus Start dan
arus normal saat Start Motor dilakukan, jika Start berhasil dengan baik maka
tunggu beberapa menit untuk memastikan Motor dan bebean kerja dalam kondisi
Normal.
10.
Laporkan pada operasi personel
bahwa motor telah berjalan normal
4.3
Sistem Proteksi Pada Motor 2,4 kV
Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M)
Alat yang
digunakan untuk proteksi pada motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) adalah SIEPROTEK 7SJ602. Alat
tersebut merupakan alat yang mampu memproteksi gangguan baik pada peralatan
maupun jaringan listrik, sistem proteksinya berbasis Digital MicroController
Multifunction Protection. Adapun yang diproteksi oleh SIEPROTEK 7SJ602 antara
lain:
a)
Ground Faults / Gangguan Fasa ke
Tanah (50N/51N)
b)
Over Current / Arus Lebih (50/51)
c)
Unbalance / Negative Sequence Over
Current (46)
Prinsip kerja SIEPROTEK 7SJ602 yaitu mengolah data yang
diperoleh dari CT (Current Transformer), dikirim ke Communication Card dan
dibandingkan dengan settingan yang ada pada Memory Card, kemudian ditampilkan
di Display Sieprotek sekaligus disimpan data gangguan pada simulasi sistem
gangguan.
Apabila terjadi gangguan arus lebih 150% dari arus
nominal pada motor dengan ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 5,25 A maka
arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada motor
= Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
= 300/5 x 5.25
= 315 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik
Siemens AG adalah 154.2 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada motor
315 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 154.2 detik dan di MCC
akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay SIEPROTEK
7SJ602 akan muncul Over Current (51) : 315 A.
Ketika
gangguan arus lebih 315 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke
Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 154,2 detik
memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14
terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus
mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4
membuka dan motor2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan arus lebih 200% dari arus
nominal pada motor dengan ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 7,0 A maka
arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada motor = Ratio
CT x Arus Terbaca pada Relay
= 300/5 x 7.0
= 420 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik
Siemens AG adalah 63.24 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada motor
63.24 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 63.24 detik dan di
MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay
SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Over Current (51) : 420 A.
Ketika
gangguan arus lebih 420 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke
Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 63,24 detik
memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14
terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus
mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4
membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan arus lebih 250% dari arus
nominal pada motor dengan ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 8,75 A maka
arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada motor
= Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
= 300/5 x 8,75
= 520 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik
Siemens AG adalah 34.67 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada motor
520 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 34.67 detik dan di MCC
akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay SIEPROTEK
7SJ602 akan muncul Over Current (51) : 520 A.
Ketika
gangguan arus lebih 520 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke
Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 34,67 detik
memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14
terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus
mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4
membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan arus lebih 300% dari arus
nominal pada motor dengan ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 10,5 A maka
arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada motor
= Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
= 300/5 x 10.5
= 630 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik
Siemens AG adalah 21.83 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada motor
630 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 21.83 detik dan di MCC
akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay SIEPROTEK
7SJ602 akan muncul Over Current (51) : 630 A.
Ketika
gangguan arus lebih 315 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke
Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 21,83 detik
memeriantahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14
terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus
mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4
membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan arus lebih 400% dari arus
nominal pada motor dengan ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 14 A maka
arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada motor
= Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
= 300/5 x 5.25
= 840 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik
Siemens AG adalah 12.19 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada motor
840 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 12.19 detik dan di MCC
akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay SIEPROTEK
7SJ602 akan muncul Over Current (51) : 840 A.
Ketika
gangguan arus lebih 840 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke
Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 12,19 detik
memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14
terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus
mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4
membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan fasa ketanah (Ground Faults)
maka arus pada jaringan (fasa) akan menurun, ratio CT 300/5A pada relay terbaca
arus 0,75 A maka arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada fasa ketanah = Ratio CT x Arus
Terbaca pada Relay
= 300/5 x 0.75
= 45 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik
Siemens AG adalah 1,240 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada fasa ke
tanah 45 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 1,240 detik dan di
MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay
SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Ground Fault (50G) : 45 A.
Ketika
gangguan fasa ke tanah 45 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke
Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 1,240 detik
memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14
terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus
mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4
membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan fasa ketanah (Ground Faults)
maka arus pada jaringan (fasa) akan menurun, ratio CT 300/5A pada relay terbaca
arus 1 A maka arus gangguan pada motor adalah :
Arus Gangguan pada fasa ketanah = Ratio CT x Arus
Terbaca pada Relay
= 300/5 x 1
= 60 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik
Siemens AG adalah 1,240 detik, maka apabila terjadi arus gangguan pada fasa ke
tanah 60 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 0,830 detik dan di
MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay
SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Ground Fault (50G) : 60 A.
Ketika
gangguan fasa ke tanah 60 A maka CT menginformasikan atau mengirim sinyal ke
Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 0,839 detik
memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan 14
terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus
mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4
membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan arus urutan negatif atau
unbalance maka arus pada antara fasa dengan fasa yang lain tidak seimbang,
ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 1,2 A maka arus gangguan pada motor
adalah :
Arus Urutan Negatif = Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
= 300/5 x 1.2
= 72 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik
Siemens AG adalah 5,132 detik, maka apabila terjadi arus urutan negatif pada
motor 72 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 5,132 detik dan di
MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay
SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Negative Sequence Overcarent (50G) : 72 A.
Ketika
gangguan arus urutan negartif 72 A maka CT menginformasikan atau mengirim
sinyal ke Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu
5.132 detik memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13
dan 14 terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung
arus mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12
dan 4 membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
Apabila terjadi gangguan arus urutan negatif atau
unbalance maka arus pada antara fasa dengan fasa yang lain tidak seimbang,
ratio CT 300/5A pada relay terbaca arus 7,5 A maka arus gangguan pada motor
adalah :
Arus Urutan Negatif = Ratio CT x Arus Terbaca pada Relay
= 300/5 x 7.5
= 450 A
Dengan waktu settingan trip relay yang di set oleh pabrik
Siemens AG adalah 1,085 detik, maka apabila terjadi arus urutan negatif pada
motor 450 A relay memerintahkan motor untuk trip dengan waktu 1,085 detik dan
di MCC akan muncul lampu indikasi berwarna kuning, dan pada box PLC Relay
SIEPROTEK 7SJ602 akan muncul Negative Sequence Overcarent (50G) : 450 A.
Ketika
gangguan arus urutan negartif 450 A maka CT menginformasikan atau mengirim
sinyal ke Relay SIEPROTEK 7SJ602, lalu relay akan bekerja dengan waktu tunggu 1.085
detik memerintahkan kontak Relay SIEPROTEK 7SJ602 (51/51N/46) menutup, 13 dan
14 terhuhung arus mengalir ke CZ maka kontak CZ menutup 12 dan 8 terhubung arus
mengalir ke lampu indikasi gangguan (fault) dan lampu ganguan menyala. 12 dan 4
membuka dan motor 2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air (62-GB-602M) berhenti (trip).
BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN DAN
SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil Kerja
Praktek yang telah
saya lakukan, maka dapat saya simpulkan bahwa:
1.
Penggunaan alat proteksi
multiprotection SIEPROTEK 7SJ602 sangat
berguna untuk pengamanan motor.
2.
Alat proteksi yang digunakan untuk motor
2,4 kV Forced Fan For Fluidizing Air
(62-GB-602M) menggunakan SIEPROTEK 7SJ602 memproteksi arus lebih
(50N/51N) dan bekerja pada saat arus mencapai 150%, 200%, 250%, 300%, dan 400%
daripada arus nominal, maka dibaca arus pada relay yaitu 5,25 A, 7,0 A, 8,75 A,
10,5 A, dan 14,0 A.
3.
SIEPROTEK 7SJ602 memproteksi Arus
lebih 200% daripada arus nominal, maka dibaca arus pada relay sebesaar 10 A dan
trip sehingga motor shutdown.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan yaitu:
1.
Selalu perhatikan pada settingan
relay SIEPROTEK 7SJ602, karena berbeda dengan relay yang biasa, karena relay
jenis ini memiliki beberapa fungsi dalam memproteksi, bukan hanya motor saja.
2.
Bagi mahasiswa yang belum atau
sedang melaksanakan kerja praktek agar sedikitnya memahami prinsip kerja relay
maupun PLC. Hal ini sangat penting.
3.
Perkembangan Sistem Proteksi terus
berkembang seiring dengan perkembangan zaman, jadi jangan hanya terpaku pada
satu arah, namun alangkah baiknya kecanggihan proteksi ini patut di bandingkan.
DAFTAR PUSTAKA
A.E, Fitzgerald. 1997. Mesin-Mesin Listrik. Edisi Keempat. Jakarta:
Erlangga
Eugene C. Lister. 1993 Mesin dan Rangkaian Listrik Edisi
Keenam. Jakarta:
Erlangga
Drs. Yon Rijino. 1994. Dasar Teknik Tenaga Listrik. Edisi
Revisi. Yogyakarta: Andi
Urea2. 2004 Standard
Operating Procedure Start, Stop and Switch Rotating Machine. Lhokseumawe : PT. Pupuk Iskandar Muda
Urea2. 2004 Prosedur
Baku Pabrik Urea II. Lhokseumawe : PT. Pupuk Iskandar Muda
Manual Handbook VEM Germany Motor, Germany: VEM
Germany
Simens.
2003. Siprotec 7SJ602 Multifunction
Overcurren and Motor
Protection Relay. Germany: Siemens Electric
Toyo Engineering Corp, Rekayasa Industri, Krakatau
Engineering Corp. 2001. Piping and
Instrumentation Diagram Urea Unit PIM II Project. Lhokseumawe: PT. Pupuk
Iskandar Muda
Toyo Engineering Corp, Rekayasa Industri, Krakatau
Engineering Corp. 2001. Interlocking
Logic Diagram Urea. Lhokseumawe: PT. Pupuk Iskandar Muda
Listrik PIM II, 2010. Bahan
Pelatihan Motor-motor Listrik, jaringan Sistem Distribusi Listrik untuk
Operator Pabrik Urea II dan Personil Analis Laboratorium. Lhokseumawe: PT.
Pupuk Iskandar Muda
http//:www.pim.co.id



Tidak ada komentar:
Posting Komentar