BAB II
DASAR TEORI
2.1 Sistem
Dasar Transmisi Dan Distribusi
Sistem dasar transmisi dan distribusi diawali oleh Generator
sinkron yang mengubah energi mekanis yang dihasilkan pada poros penggerak mula
menjadi energi listrik tiga fasa. Melalui transformator penaik tegangan (step-up
transformafor) energi listrik ini kemudian dikirim melalui saluran transmisi
bertegangan tinggi 13,8 kV. Peningkatan tegangan dimaksudkan untuk mengurangi
jumlah arus yang mengalir pada saluran transmisi. Dengan demikian akan
mengurangi rugi-rugi panas (head loss) yang menyertainya. Ketika saluran transmisi mencapai pusat beban,
tegangan tersebut diturunkan menjadi tegangan menengah, melalui transformator penurun
tegangan (Step down Transformator) dari 13,8 kV ke 2,4 kV. Saluran transmisi
yang bertegangan tinggi bertugas menyalurkan tenaga listrik ke pusat-pusat
beban dalam kapasitas yang cukup besar, dan seluran distribusi bertugas
rnembagikan daya listrik tersebut kepada pelanggan melalui saluran tegangan rendah.
Sistem dasar pada saluran transmisi dan distribusi dapat digarnbarkan seperti
pada Gambar 2.1 berikut.
Gambar
2.1 Sistem dasar transmisi dan distribusi PT. PIM
2.2 Transformator
Daya
Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat
memindahkan dan mengubah energi listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik
ke rangkaian listrik yang lain, melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan
prinsip induksi electromagnet Transformator digunakan secara luas, baik dalam
bidang tenaga listrik maupun elektronika. Penggunaan transformator dalam sistem
tenaga memungkinkan terpilihnya tegangan yang sesuai, dan ekonomis untuk
tiap-tiap keperluan misalnya kebutuhan akan tegangan tinggi dalam pengiriman
daya listrik jarah jauh.
Transformator dalam bidang elektronika digunakan
antara lain sebagai gandengan impedansi antara sumber dan beban, untuk
memisahkan satu rangkaian dari rangkaian yang lain, dan untuk menghambat arus
searah sambil tetap melakukan atau mengalirkan arus bolak-balik antara
rangkaian.
Kegunaan transformator dalam bidang listrik
khususnya untuk transmisi adalah untuk memungkinkan pengiriman anergi listrik
melalui jaringan transmisi dalam bentuk tegangan tinggi, karena dengan tegangan
tinggi yang dibawa melalui jaringan transmisi akan dapat memperkecil arus,
sehingga luas penampang penghantar transmisi dapat diperkecil. Sedangkan dalam
bidang elektronika transformator digunakan sebagai gandengan impedansi antara
sumber dan beban. Dalam bidang tenaga listrik pemakaian transformator
dikelompokkan menjadi :
1. Transformator
daya
2. Transformator
distribusi, dan
3. Transformator
pengukuran (yang terdiri dari transformator arus dan transformator tegangan).
Prinsip kerja transformator yaitu berdasarkan
induksi elektromagnetik dengan adanya inti besi (lamel) tempat melakukan fluks
bersama sehingga adanya gandengan magnet antara rangkaian sisi primer dan
rangkaian sisi sekunder. Berdasarkan lilitan kumparan pada inti besi seperti
pada Gambar 2.2 dikenal ada dua macam tipe transformator yaitu:
1. Tipe
inti
2. Tipe
cangkang
Gambar 2.2 Transformator tipe cangkan
dan tipe inti. [3]
2.3 Keadaan
Transformator Tanpa Beban
Bila pada kumparan primer transformator dihubungkan
dengan sumber tegangan V1 yang sinusoidal seperti pada gambar 2.3,
maka akan mengalir arus primer Io, arus Io menimbulkan
tegangan (V) atau Gaya Gerak Listrik (GGL) sebesar:
V = φ maks sin ω t
…………………..…………………….. (2 . 1)
Gambar
2.3 Transformator tanpa beban. [3]
Dari hukum Faraday, Fluks yang sinusoidal akan
menghasilkan tegangan induksi pada sisi primer sebesar:
………………………………………………… (2 . 2)
Dengan
φ = φmaks sin ωt, maka ;
…………..………………………. (2 . 3)
.……………………………… (2 . 4)
Maka
harga efektifnya sisi primer adalah :
……………………. (2
. 5)
Pada sisi sekunder fluks bersama akan menimbulkan GGL (Gaya
Gerak Listrik) yaitu :
………………………………………………. (2 . 6)
…….…………….………… (2 . 7)
Harga
efektif pada sisi skunder adalah :
……..…………….
(2 . 8)
Sehingga,
………………………………………………………. (2 . 9)
Dengan
mengabaikan rugi tahanan dan arus bocor, maka menghasilkan :
…………………………..……………… (2 . 10)
Dimana
:
V = Tegangan EMF dari transformator
=
Fluks maksimum dalam inti besi (core) transformator.
N1 = Jumlah lilitan sisi primer
N2 = Jumlah lilitan sisi sekunder
f
= Frekuensi sumber jala-jala
listrik
e1 = Tegangan induksi sisi primer
e2 = Tegangan induksi sisi sekunder
E1 = Tegangan efektif sisi primer
E2 = tegangan efektif sisi sekunder
V1 = Tegangan supply sisi primer
V2 = tegangan output sisi sekunder
k = Perbandingan transformator
2.4
Keadaan Transformator Berbeban
Apabila kumparan sekunder dihubungkan dengan beban RL
(Resistansi Load), maka I2 mengalir pada sisi sekunder seperti pada
gambar 2.4 dibawah ini.:
Gambar 2.4 Transformator berbeban [3]
Arus I2 akan menimbulkan gaya gerak magnet (ggm),
jadi arus yang mengalir pada sisi primer menjadi :
I1
= I0 + I2’ ………………………………………………… (2 . 11)
Dengan Im
dianggap kecil, maka I2’ = I1
Jadi,
N1.I1
= N2.I2………………………..……………………… (2 . 12)
Atau :
I1/I2
= N2/N1..………….………….……………………..... (2 . 13)
Dimana:
I1 = Arus sisi primer transformator
I2
= Arus beban sisi sekunder
transformator
I2’ = Arus imbas dari sisi sekunder ke sisi
primer
Untuk tansformator berdaya besar konstruksinya
ditambah dengan beberapa bagian yang disamakan untuk pemanasan inti, belitan
serta wadah minyak trafo digunakan untuk mengisolasi terminal-terminal dari
tangki transformator dan juga bertindak sebagai pendingin.
2.5
Bagian-bagian
transformator distribusi
Transformator yang digunakan pada gardu distribusi
sebagai penurun tegangan memiliki beberapa bagian utama antara lain :
1. Pengubah
sadapan
2. Inti
transformator
3. Lilitan
Pengubah sadapan, inti transformator, dan lilitan merupakan
bagian utama transformator yang sangat berpengaruh terhadap keadaan
transformator sebagai pensupply tegangan.
2.5.1
Pengubah
Sadapan
Pengubah sadapan adalah suatu alat untuk
mengubah nilai tegangan pada transformator sehingga didapat nilai tegangan yang
dikehendaki sesuai dengan kebutuhan. Sadapan yang dapat digeser umumnya
terletak pada primer.
Semakin
baik keandalan alat (sadapan), maka penempatannya dapat diletakkan dalam tangki
transformator. Suatu pengubah sadapan mempunyai mekanisme hubung yang dapat mengubah
tap dalam keadaan transfomator berbeban, dan terdiri dari pemilih sakelar
pengelih serta tahanan sebagai pembatas arus.
2.5.2
Inti Transformator
Inti
transformator dibuat dari lempengan-lempengan baja silikon dengan kadar 4-5%.
Lempengan ini mempunyai tebal 0.35 - 0.5 mm dan disusun sedemikian rupa
sehingga membentuk inti transformator yang telah distandarisasi, misalnya
bentuk E dan I, antara lempengan satu dengan yang lain diberi isolasi vernis,
atau isolasi kertas yang tebalnya kira-kira 0.04 mm. Keuntungan baja silicon
sebagai bahan inti adalah dapat mengurangi rugi-rugi inti besi. Bentuk inti
transformator ada dua yaitu"core type" dan"shell type" yang
banyak dipakai pada transformator tenaga berkapasitas daya kecil.
Transformator
tipe shell, lilitan primer dan sekunder terletak pada satu kaki inti
transformator. Keuntungan tipe shell adalah mudah dalam pembuatan dan juga
fluksi bocor dapat diperkecil, sedangkan kerugiannya adalah kurang ekonomis
dalam pemakaian inti. Transforrnator tipe core banyak dipakai pada transformator
tenaga berkapasitas besar. Lilitan primer sekunder dapat dipasang pada satu
kaki inti transformator. Keuntungan lain dari tipe ini adalah dapat mempergunakan
kawat dengan isolasi rendah. pemakaian inti ekonomis, sedangkan kerugiannya
adalah kebocoran fluksi cukup besar jika di bandingkan dengan tipe shell. Inti
besi seperti pada Gambar 2.5 berfungsi untuk mempermudah jalan fluksi, yang
ditimbulkan oleh arus listrik yang melalui kumparan.
Gambar
2.5 Inti besi transformator [8]
2.5.3
Lilitan
Lilitan
transformator mempunyai fungsi penting, karena lilitan ini menentukan keadaan
dari suatu transformator. Pada dasamya lilitan transformator ada 2 (dua) macam
yaitu : lilitan primer dan lilitan sekunder dihubungkan ke beban. Lilitan ini
menentukan besar dan kecilnya tegangan dan arus yang dikeluarkan oleh
transformator dengan cara memperbanyak atau memperkecil jumlah lilitan.
Kemampuan transformator harus memenuhi beberapa syarat, antara lain :
1. Efisien,
baik harga maupun mudahnya mendapatkan tembaga atau komponen lainnya di pasaran
bila pada suatu saat ada perbaikan.
2. Keadaan
panas kumparan, karena jika panas melebihi nilai standar akan memperpendek umur
isolasi transformator'
3. Kekuatan
mekanik kumparan harus tahan hubungan singkat.
4. Tahan
terhadap tegangan tinggi.
Beberapa lilitan kawat berisolasi akan membentuk
suatu kumparan. Kumparan tersebut diisolasi baik terhadap inti besi maupun
terhadap kumparan lain dengan isolasi padat seperti karton, peretinax dan
lain-lain. Umumnya pada transformator terdapat kumparan primer dan sekunder.
Bila kumparan primer dihubungkan dengan tegangan /
arus bolak-balik maka pada kumparan tersebut akan timbul fluksi, fluksi ini
akan menginduksikan tegangan, dan bila pada rangkaian sekunder dihubungkan
dengan beban maka akan menghasilkan arus beban pada kumparan tersebut, karena
kumparan sebagai alat transfortasi tegangan dan arus. Susunan kumparan
transformator seperti pada terlihat pada Gambar 2.6
Gambar
2.6 Susunan kumparan transformator [8]
2.6
Transformator
Arus
Transformator arus disebut juga transformator
pengukuran yang digunakan untuk mengukur arus beban suatu rangkaian. Dengan
menggunakan tranformator arus, maka arus-arus beban dapat diukur dengan
menggunakan alat ukur arus (Amp. Meter). Transformator arus hanya memiliki satu
sisi untuk kumparannya yaitu n (Lilitan), jadi untuk trafo arus berlaku
hubungan sebagai berikut:
1 . I1 = N2 . I2…..……….………………………………… (2 . 14)
Atau
:
I1 / I2
= N2 / 1 ….…………………………………………. (2 . 15)
Dimana
:
I1 = Arus sisi primer
transformator arus
I2 = Arus sisi sekunder transformator arus
N2 = Jumlah kumparan sisi sekunder
transformator arus
N1 = 1 = Kumparan fasa sisi primer transformator arus
Gambar
2.7 Simbol transformator arus [7]
Dimana
:
a = b = Terminal arus masuk sisi primer
a’ = b’ = terminal arus masuk sisi
sekunder
CT = Current Transformer
Gulungan primer transformator arus terdiri dari
lilitan tunggal seperti pada Gambar 2.7 yang ditandai dengan a dan b, lilitan
primer diperoleh dengan memasukkan penghantar primer kedalam teras toroidal
(toroidal steel cares). Sedangkan lilitan sekunder ditandai dengan a' dan b'.
Transformator arus menyerupai transformator biasa, dimana arus primer yang
memasuki terminal a dan arus primer yang meninggalkan terminal a' pada gulungan
sekunder adalah sefasa dengan arus primer jika arus magnetisasi diabaikan. Berdasarkan
konsep pada Analisa sistem tenaga tentang transformator arus rating arus
nominal untuk transformator arus pada sisi sekunder yang telah dibakukan adalah
5 Amper, standar ke dua adalah 1 Amper yang dipakai di Eropa dan juga Amerika
Serikat. Standar perbandingan arus CT telah ditetapkan seperti pada tabel 2.l
Tabel 2.1
Standar perbandingan CT [3]
|
Perbandingan
Arus
|
Perbandingan
Arus
|
Perbandingan
Arus
|
|
50
: 5
|
300
: 5
|
800
: 5
|
|
100
: 5
|
400
: 5
|
900
: 5
|
|
150
: 5
|
450
: 5
|
1000
: 5
|
|
200
: 5
|
500
: 5
|
1200
: 5
|
|
250
: 5
|
600
: 5
|
-
|
Rating gulungan sekunder CT dapat dilampaui untuk
beberapa periode waktu yang singkat tanpa merusak gulungan tersebut. Arus yang
lebih dari 10 sampai 20 kali arus normal sering dijumpai dalam gulungan CT
yaitu pada saat terjadi gangguan hubung singkat. Untuk menjaga agar fluks tetap
tidak berubah perlu diperhatikan agar rangkaian skunder selalu tertutup. Dalam
keadaan rangkain skunder terbuka, maka gaya gerak magnet N2.I2
akan sama dengan nol (karena I2 = 0) sedangkan gaya gerak magnet N1.I1
tetap ada, sehingga fluks normal (φnormal ) akan terganggu. Operasi
sebuah transformator disebut dalam keadaan ideal bila rangkaian skunder mempunyai
impedansi yang rendah pada saat dipergunakan sebagai pengukuran atau dalam
keadaan dihubung singkat.
2.7
Hubungan
Dua Buah CT Untuk Areal Perlindungan
Transformator Arus dihubungkan secara seri seperti
pada Gambar 2.8, keseluruhan dari EMF sekunder dari kedua CT yang digunakan
untuk menyesuaikan impedansi kombinasi dari CT. Gangguan dalam daerah perlindungan
menyebabkan mengalir dua arah arus yang sama menuju rele Diferensial.
Gambar
2.8 Hubungan dua transformator arus [11]
Pemilihan CT disesuaikan dengan alat ukur dan
proteksi, pemilihan CT dengan kualitas baik akan memberikan perlindungan sistem
yang baik pula, relai differensial sangat tergantung terhadap karakteristik CT.
Sistem akan dilindungi oleh relay differensialsecara
optimal jika karakteristik CT bekerja dengan baik.CT (Current Transformer) ditempatkan dikedua sisi transformator yang
akan diamankan, yaitu pada sisi primer trafo dan pada sisi sekunder trafo.
2.8
Relay
Differensial dan Prinsip Kerja
Prinsip kerja Relay Diferensial adalah membandingkan
vektor arus I1 dan I2. Pada waktu tidak terjadi
gangguan/keadaan normal atau gangguan berada diluar daerah pengamanan I1
dan I2 sama atau mempunyai perbandingan serta sudut fasa tertentu,
dalam hal ini relay tidak bekerja. Pada waktu terjadi gangguan di daerah
pengaman I1 dan I2 tidak sama perbandingan serta sudut
fasanya berubah dari keadaan normal disini relay akan bekerja.
Sifat dari relay diferensial adalah: sangat selektif
dan cepat, tidak perlu dikoordinasi dengan rele lain, sebagai pengaman
peralatan (equipment), tidak dapat digunakan sebagai pengaman cadangan untuk
seksi atau daerah berikutnya, daerah pengamannya dibatasi oleh pasangan trafo
atau dimana relay diferensial dipasang. Adapun penggunaan rele diferensial
adalah sebagai pengaman generator, pengaman trafo daya, pengaman motor--motor
dan pengaman saluran transmisi.
Daerah pengamanan relay differensial dibatasi oleh
pasangan trafo arus, dimana relay differensial dipasang sehingga relay
differensial tidak dapat dijadikan sebagai pengaman cadangan untuk daerah
berikutnya. Proteksi relay differensial bekerja berdasarkan prinsip
keseimbangan arus (current balance).
Adapun rumus yang digunan untuk mencari arus primer
maksimum adalah:
…………………………..... (2 . 16)
Dan
untuk arus sekunder max adalah
IS - max
………………………………… (2 . 17)
Jika pada sisi sekunder trafo dipasang CT dengan hubungan delta,
maka arus yang mengalir ke relay differensial (IRd) untuk I1adalah
berlaku persamaan :
IRd
…………..……………………………. (2 . 18)
Jika pada sisi perimer trafo dipasang CT hubungan way (Y), maka
arus yang mengalir ke relay differensial untuk I2 Berlaku
persamaan:
…………………………………. (2 . 19)
2.9
Karakteristik
Relay Differensial
Karakteristik Rele Diferensial seperti tertera pada
Gambat 2.15 berikut :
Gambar
2.9 Kurva karaktristik rele differensial tap [17]
Dari Gambar 2.9 karakteristik rele diferensial.
dimana kecuraman dari karakteristik arus kerja (Id) dapat diatur dengan
mengatur kr. Dengan naiknya arus pada kumparan Restraint (IR).
maka arus kerja (Id) juga akan naik. Karakteristik rele akan
memotong sumbu Io min, yang menyatakan arus kerja, jika arus pada kumparan
Restraint adalah sama dengan nol.
Dimana:
Kr
: Faktor Restaint
Dalam
persen (%) = 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45, 50
Dua buah CT yang mempunyai perbandingan gulungan
yang sama ditempatkan pada batas daerah perlindungan dimana masing-masing fasa ditempatkan
dua buah CT yaitu CT1 dan CT2, Untuk keadaan normal dalam
daerah perlindungan dari CT berlaku persarnaan sebagai berikut:
I1 – I2
= 0……………..………………………………….
(2 . 20)
Sedangkan untuk gangguan didalam daerah yang
dilindungi oleh CT adalah :
I1 – I2
= If ……………………………………………….. (2 . 21)
Dimana, If adalah arus gangguan yang
terdeteksi dari sisi sekunder CT tersebut.
Dalam praktek untuk CT sering terjadi kesalahan
dalam persen yang kecil pada pengoperasiannya, untuk memperhitungkan ketidak telitian
dapat dipilih nilai arus [Ip] yang rendah sehingga.:
[I1 – I2
] < [ Ip] …………………………………………. (2 . 22)
Untuk keadaan system yang normal dan untuk gangguan
diluar daerah perlindungan berlaku :
[I1 – I2
] > [ Ip] ……………………………………….......
(2 . 23)
Untuk
gangguan didalamnya dapat didefinisikan :
[I1 – I2
] > [ Ip]
CT bekerja ……...………………………. (2
. 24)
[I1 – I2
] < [ Ip] CT tidak bekerja ………………………… (2
. 25)
Suatu relay dapat dibuat menurut modelnya, sehingga
prinsip kerja untuk rele tersebut menjadi :
CT
bekerja …………………………… (2 . 26)
Dimana
:
No = Jumlah Gulungan Operating Coil
Nr = Jumlah Gulungan Restraint Coil
K = Konstanta
S = Mekanikal Pegas
Gambar 2.10
Rangkaian hubungan untuk perlindungan transformator daya [9]
Karakteristik
diferensial dibuat sejalan dengan Unbalances current (Iμ), untuk
menghindari terjadinya kesalahan kerja. Kesalahan kerja disebabkan
karena CT ratio mismatch, adanya pergeseran fasa akibat belitan transformator
tenaga terhubung (Δ) – (Y).
Perubahan tap tegangan (perubahan posisi tap
changer) pada transformator tenaga oleh On Load Tap Changer (OLTC) yang
menyebabkan CT mismatch juga ikut berubah. Kesalahan akurasi CT, Perbedaan
kesalahan CT di daerah jenuh (Saturasi CT), dan Inrush current pada saat
transformator energize menimbulkan unbalances current (Iμ) yang
bersifat transient.
Untuk mengatasi masalah unbalance current (Iμ)
pada relai diferensial caranya dengan menambahkan kumparan yang menahan
bekerjanya relai di daerah Iμ. Kumparan ini di sebut Restraining Coil,
sedangkan kumparan yang mengerjakan relai tersebut di sebut Operating Coil.
Arus diferensial didapat dari menjumlahkan komponen
arus sekunder perfasa di belitan 1
dan belitan 2
. secara vektor perfasa.
Jika arus berlawanan dalam arti yang satu menuju
relai dan yang yang lainnya meninggalkan relai, maka akan saling mengurangi dan
sebaliknya jika arus searah berarti yang kedua-duanya menuju atau meninggalkan
relai, maka akan saling menjumlahkan.
Arus penahan (restrain) didapat dari arus
maksimal komponen arus sekunder perfasa di belitan 1
dan
belitan 2
.
Irestrain =
Ir
= max
,
………………………………… (2 . 27)
Untuk
mencari batasan factor pengaman pada bagian primer digunakan rumus :
X
100 ………………………………………..... (2 . 28)
Sedangkan Untuk mencari batasan factor pengaman pada
bagian sekunder digunakan rumus :
X
100 …………………………………………
(2
. 29)
2.10
Relay Differensial Pada Transformator Daya.
Pengaman
diferensial adalah jenis pengaman yang sangat penting yang berguna untuk
mengamankan gangguan fasa ke fasa dan fasa ke tanah. Pengaman differensial
umumnya digunakan sebagai pengaman transformator yang mempunyai kapasitas
tinggi. Setiap pergeseran dari intensitas arus normal ratio pada titik input
dan output yang bisa menyebabkan kesalahan pada daerah yang diamankan, sehingga
arus ambalance (arus tidak normal) dapat menyebabka rele diferensial bekerja mentrip Circuit
Breaker (CB) untuk mengamankan peralatan.
Pengaman diferensial dari transformator dikenal juga
sebagai Merz price proteksi dari transformator. Gambar 2.11 merupakan pengaman diferensial yang umum
digunakan untuk pengamanan transformator 3 fasa hubungan start-delta. Pada
transformator start-delta arus beban didalam kedua gulungan tidak berlawanan
fasa secara langsung, tetapi digeser 300 untuk mengizinkan CT pada
sisi sekunder untuk transformator dihubungkan secara delta dan sisi primer
dihubungkan secara start.
Syarat utama pemasangan CT (Current Transformer)
pada transformator untuk koordinasi relay differensial yaitu, jika
transformator memiliki gulungan yang terhubung secara delta-star, maka
pemasangan CT (Current Transformer) untuk transformator tersebut harus
dengan star-delta, tujuan dilakukan demikian agar pengaman differensial pada
transformator tersebut dapat menyeimbangkan arus untuk sistem proteksinya agar
arus tersebut dinyatakan seimbang.
Gambar
2.11 Pengaman differensial untuk transformator daya [11]
2.10.1
Perlindungan
Transformator Daya Terhadap Relay Differensial
Perlindungan
transformator daya dengan rele diferensial adalah perlindungan yang lazim
digunakan. Perlindungan dengan rele diferensial pada transformator daya
terdapat pada dua gulungan fasa tunggal seperti pada gambar 2.11. Bila
transformator daya tersebut mengalirkan arus beban I'1 dan l'2
pada gulungan primer dan sekundernya dengan mengabaikan arus magnetisasi
seperti pada persamaan dibawah ini.
…………………….……………………………….. (2 . 30)
Dimana :
N1 dan N2 = Banyak lilitan pada gulungan primer dan
sekunder.
Arus
sekunder CT adalah I1 dan I2, perbandingan lilitan dari
CT pada sisi primer dan sekunder dari transformator daya berturut-turut adalah
n1 dan n2 seperti pada persamaan 2 -31.
.
……………………………………..… (2 . 31)
Untuk
mencegah bekerjanya relay differensial pada keadaan normal, maka Il
– I2 yang melalui kumparan kerja (Trip Coil) harus sama nol, dengan
kata lain I1 harus sama dengan I2. sehingga:
……..…………………………………………… (2 .
32)
Dengan
adanya gulungan lilitan dalam (gulungan Internal), maka pada sisi sekunder
transformator daya dan dengan arus gangguan (I'f) pada gangguan diperoleh:
I1 – I2
=
…………………………………………….... (2 . 33)
Untuk
gangguan pada sisi primer transformator menyebabkan If/n1. Bila rele
diatur untuk arus picup (lp) dalam orde yang rendah, maka rele diferensial akan
bekerja untuk gangguan dalam, dan bertahan tidak bekerja untuk gangguan luar atau
untuk beban normal, Gambar 2.12 merupakan perlindungan transformator dengan
rele differensial.
Gambar
2.12 Perlindungan transformator dengan relay differensial [11]
2.10.2
Trafo
Arus Pembantu Pada Transformator Daya.
Mengimbangi
arus antara I1 dan I2 pada kondisi normal dimana keadaan
arus yang tidak seimbang (mismatched) yang terjadi bila digunakan
perbandingan CT yang standar pada system perlindungan transformator daya yang
dihubungkan secara Y - ∆ adalah kegunaan CCT. Pada transformator daya 6000 kVA
ini, kerja CCT dalam mengkalibrasi arus normal adalah dengan cara perbuahan
posisi tap sesuai dengan perbandingan CT1 dan CT2, seperti
pada gambar 2.13 yang merupakan penggunaan Compensating
Current Transformer CCT pada Transformator Daya.
Penggunaan
Compensating Current Transformer
(CCT) dapat dibedakan atas 2 tujuan :
a) Untuk
mengoreksi adanya perbedaan arus antara CT1 dan CT2.
b) Untuk
mengoreksi adanya pergeseran vector sisi tegangan tinggi dan tegangan rendah
trafo daya.
Auxiliary Current Transformer
(ACT) atau yang sering disebut dengan Compensating
Current Transformer (CCT) adalah CT bantu yang berguna untuk menyesuaikan
besar arus yang masuk ke relay differensial akibat pergeseran fasa oleh
transformator arus dan beda arus primer dan sekunder transformator arus.
Meskipu
dalam perhitungan telah didapat CT yang sesuai dan ada dipasaran, namun akan
tetap terjadi kesalahan dalam membaca perbedaan arus dan tegangan disisi primer
dan sekunder transformator daya serta pergeseran fasa pada trafo arus,
kesalahan ini disebut error mismatch yang didapat dari perbandingan CT ideal dan
CT yang ada di pasaran.
Gambar 2.13 Penggunaan
trafo arus pembantu (CCT) pada trafo daya [10]
Penggunaan
setting tap CCT pada transformator daya berlaku persamaan—persamaan sebagai
berikut :
………………………………………………………………………. (2 . 34)
Dimana:
K
= Konstata Hubungan Transformasi
K
= 1 Untuk Transformasi Koneksi Transformator arus Y – Y
K
=
Untuk Transformasi koneksi Transformator Arus Y - ∆
K
=
Untuk Transformasi Koneksi Transformator Arus ∆ - Y
Masalah-masalah yang timbul pada relay
differensial dalam perlindungan transformator daya antara lain yaitu :
a)
Karakteristik yang tidak sesuai dari Current Transformer
b)
Perrubahan ratio, karena perubahan tap
setting.
c) Arus
ganguan dari magnetisasi di dalam transformer.
2.10.3
Perubahan
Ratio CT Karena Perubahan Tap Setting.
Peralatan tap change adalah hal yang paling umum dalam transformator daya, yang
berguna untuk mengubah ratio dari gulungan. Dengan perubahan kompensetting dari
perubahan tap pengaman differensial, sehingga CT tidak dapat digunakan.
Bias atau persentase dari relay
differensial memberikan sejumlah kestabilan pada range tap change yang
perbedaannya sangat besar. Bias relay lebih baik dipasang pada keseluruhan
pengaman dari perbandingan transformator.
2.10.4
Persentase
Relay Differensial.
Operasi yang tidak diinginkan pada
gangguan external akibat kesalahan
dari CT dan perubahan ratio tap charging
retraining winding, maka perlu dilengkapi dengan CCT untuk mengurangi arus error yang diakibatkan oleh kesalahan
ratio CT, dengan kata lain operasi winding
dibias dan beroperasi dengan adanya arus dan kemudian relay menjadi lebih
sensitif pada arus rendah tanpa mengetripkan gangguan luar (external). Dalam kondisi ini jika magnet
restraining bekerja, maka rationya
adalah T dan kriteria operasi dari statik perbandingan adalah:
…………………...…………………………… (2
. 35)
Dan
untuk perbandingan medan elektromagnetik adalah :
…………………………………………… (2 . 36)
Nilai
dari T biasanya 0,05 digunakan untuk generator dan 0,1 sampai 0,4 digunakan
untuk transformator, nilai lebih tinggi digunakan jika ratio trafo diubah oleh
tap chaging. Pengaman bias differensial seperti pada gambar 2.14.
Gambar
2.14 Pengaman bias differensial [7]
Persentase
relay differensial hubungan delta-way berlaku rumus:
P
X
100% …………………………………………… (2 . 37)
Atau
P
X
100% ………………………………………… (2 . 38)
2.10.5 Persyaratan Pada Pengaman Dengan
Menggunakan Relay Differensial.
Syarat-syarat
yang harus diperhatikan dalam penggunaan relay differensial adalah sebagai
berikut :
a)
CT1 dan CT2 harus
mempunyai perbandingan transformasi yang sama, atau mempunyai perbandingan
transformasi sedemikian sehingga arus sekundernya sama.
b)
Karakteristik CT1 dan CT2
harus sama.
c)
Rangkaian CT ke relay termasuk hubungan
sambungan harus benar.
Bentuk
umuum koordinasi relay differensial seperti pada gambar 2.15 berikut ini.
Gambar
2.15 Koordinasi relay differensial [19]
2.10.6
Kondisi
Relay Differensial Dalam Keadaan Normal Atau Gangguan Yang Berada Diluar
Kawasan Yang Diamankan.
Keadaan
normal artinya keadaan tanpa gangguan atau gangguan yang terjadi bukan dalam
pengawasan pengaman relay differensial, keadaan gangguan yang seperti ini relay
differensial tidak bekerja, karena relay differensial hanya akan bekerja ketika
gangguan tersebut berada dalam pengawasan relay differensial, untuk jelasnya seperti
pada gambar 2.16 berikut:
Gambar
2.16 Kondisi relay differensial dalam keadaan normal [9]
Dalam
keadaan tanpa gangguan maka koordinasi relay differensial seperti pada gambar 2.16
berlaku persamaan sebagai berikut.
I1
= I2 atau
i1 = i2 …………………………………..….. (2 . 39)
Id = i1
– i2 = 0 ……………………………………… (2 . 40)
Kondisi Id = 0 mengakibatkan
relay differensial tidak bekerja.
2.10.7 Kondisi Relay Differensial Untuk
Keadaan Gangguan Berada Dalam Kawasan Yang Diamankan.
Keadaan
gangguan adalah suatu keadaan yang mengakibatkan
parameter aris meningkat dengan beda potensial tegangan sangat rendah. Dalam
keadaan gangguan suatu peralatan listrik atau sistem tidak bisa dipertahankan
dalam keadaan lama, kalau sistem tetap dipertahankan dalam kondisi gangguan ,
maka peralatan atau sistem akan mengalami kerusakan akibat lonjakan arus sangat
tinggi. Dalam keadaan gangguan pada kawasan pengaman relay differensial, maka
relay differensial akan bekerja untuk mengetrip kedua CB-nya. Untuk menjelaskan
koordinasi relay differensial dalam menangani gangguan dalam kawasan yang
dilindungi seperti pada gambar 2.17 berikut:
Gambar
2.17 Kondisi relay differensial dalam keadaan gangguan [9]
Kondisi
gangguan seperti pada gambar 2.17 berlaku persamaan sebagai berikut :
I1
> In atau i1
> in ……………………………………… (2 . 41)
I2
= 0 atau i2 = 0 ……………………………………… (2 . 42)
Pada kndisi ini, id = i1 – i2 = i1 ……………….……………… (2
. 43)
Dari
persamaan (2 - 43) id tidak sama dengan 0, tetapi id = i1,
keadaan ini mengakibatkan relay differensial akan tetap mengetrip (membuka)
kedua CBnya.
2.10.8 Kondisi Relay Differensial Untuk
Keadaan Gangguan Dari Kedua Arah Yang Berada Dalam Kawasan Yang Diamankan.
Gangguan
pada kedua arah untuk peralatan yang diamankan dengan pedoman gangguannya tetap
masih dalam pengawasan pengamanan relay differensial, pada kondisi ini relay
tetap bekerja, seperti pada gambar 2.18 berikut:
Gambar
2.18 Kondisi relay differensial dalam keadaan gangguan dua arah [9]
Kondisi
gangguan seperti pada gambar 2.18 berlaku persamaan sebagai berikut :
I1
> In, dan i2
> in ……………………….,,,……………… (2 . 44)
I1 > In, dan i2
> in ……………………….,………………,, (2 . 45)
Pada kondisi ini, id = i1 + i2
………………………………… (2 . 46)
Dengan
id = i1 + i2
keadaan ini mengakibatkan relay differensial akan bekerja mengetrip (membuka) kedua CB-nya, sehingga
transformator daya berhenti bekerja dan peralatan listrik lainnya
terselamatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar